oleh Kiky Fauziah, pada tanggal 15 Oktober 2020, 19.00 WIB
Pada tanggal 10 Oktober kemarin adalah hari peringatan kesehatan mental sedunia. Di Indonesia sendiri isu kesehatan mental masih dianggap sepele padahal organisasi kesehatan dunia dan Institute For Health Metrics and Evaluation melaporkan bahwa sekitar 50% dari gangguan mental muncul sebelum usia 14 tahun yang artinya adalah banyak anak-anak yang sudah mengalami gangguan kejiwaan bahkan sebelum mereka beranjak dewasa.
Perubahaan mood yang ekstrem dan selalu menyendiri kerap kali terjadi pada anak-anak. Untuk itu, dibutuhkan peran penting orang tua agar memantau sekecil apapun perubahan yang terjadi pada anak. Orang tua tidak boleh abai, sebab gangguan mental bisa terjadi tanpa memandang usia dan jika dibiarkan akan menghambat tumbuh kembang serta pola pikir anak.
Ada banyak sekali faktor penyebab gangguan mental pada anak, salah satunya adalah faktor lingkungan pertemanan. Seperti yang sering kita temui, kasus seorang anak menjadi korban bully oleh temannya namun memilih tidak bercerita pada orang tua nya lantaran takut dimarahi. Menjadi orang tua yang ditakuti oleh anak tidak lantas membuat mereka menjadi anak yang baik, justru menjadikan mereka pribadi yang tertutup. Beberapa gejala umum gangguan kesehatan mental pada anak ditandai dengan perasaan sedih yang berkepanjangan, menjadi pendiam dan menyendiri, delusi, bahkan ke tahap yang lebih serius yaitu keinginan bunuh diri.
Mari membentuk mental yang sehat pada anak sejak dini. Sebab bukan hanya kesehatan tubuh saja yang harus dijaga tapi kesehatan jiwa juga tidak kalah pentingnya. Orang tua perlu ikut andil menciptakan generasi muda yang sehat secara fisik dan mental. Untuk itu, mulailah melakukan hal-hal kecil seperti :
- Membiarkan anak mengekspresikan perasaan nya, ketika anak merasa sedih jangan menyuruhnya untuk tidak menangis tapi biarkan mereka menangis.
- Menjadi orang tua sekaligus teman untuk anak, dengan menjadi pendengar yang baik pada setiap cerita-cerita mereka dapat menciptakan rasa aman pada diri mereka.
- Memberi pemahaman pada anak ketika mereka gagal mendapatkan juara kelas atau gagal mendapatkan sesuatu yang mereka usahakan bukan karena mereka bodoh, tapi karena gagal adalah suatu hal yang wajar dan manusiawi.
- Memberikan apresiasi atau pujian ketika anak melakukan hal baik, dengan cara ini mereka akan merasa dihargai dan kelak akan dapat menghargai orang lain.
- Yang terakhir adalah orang tua menjadi role model atau teladan yang baik, karena orang tua adalah cermin untuk anak. Maka dari itu, berilah contoh yang baik dalam hal mengendalikan emosi. Anak yang pemarah bisa jadi karena orang tua nya yang berperilaku demikian.

0 Komentar