Persoalan Plasma Sawit di Seruyan, Warga Kembali Bentrok

 

Dibuat oleh: Muhammad Farhan Subchi 

Sumber gambar: Maharati News

Senin, 25 September 2023 - Warga menuntut perusahaan sawit di Seruyan untuk memberikan kebun plasma 20 persen yang mengakibatkan ricuh dan bentrok dengan aparat. 


Demonstrasi warga Desa Bangkal , Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, berakhir ricuh setelah polisi menembakkan gas air mata ke arah peserta aksi, Kamis (21/9/2023). Beberapa fasilitas dibakar dan para karyawan perusahaan juga di evakuasi. 

Kerusuhan terjadi di area pabrik dan perkebunan sawit milik PT Hamparan Masawit Bangun Persada I, dimana dalam aksi tersebut warga menuntut perusahaan memberikan hak 20 persen kebun plasma bagi masyarkat. 

James Watt, salah seorang warga Desa Bangkal mengatakan pada awalnya massa aksi tidak anarkis, mereka hanya ingin masuk ke dalam untuk membicarakan, namun hal tersebut dihalangi oleh polisi, akibat hal tersebut beberapa peserta aksi yang mengendarai dan menaiki mobil pickup ditembaki gas air mata yang membuat penumpang dibelakang pickup mengalami sesak nafas dan mata perih, akibat dari kejadian tersebut warga marah dan mulai merusak beberapa fasilitas. 

James mengaku tidak mengikuti demonstrasi tersebut tetapi dia selalu menyaksikan kejadian tersebut. ”Ini bukan aksi pertama, sudah yang keenam kali sejak 16 September 2023. Selama ini mediasi memang selalu mentok, belum ada kesepakatan,” kata James, Jumat (22/9/2023).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Kalteng Komisaris Besar Erlan Munaji menjelaskan, alasan polisi menembakkan gas air mata karena ada dua mobil pikap melaju kencang. Mobil itu seakan hendak menabrak barikade polisi, Erlan menambahkan juga setidaknya ada 10 rumah/mess karyawan yang dibakar sehingga pihaknya harus menyelamatkan para keluarga buruh sawit yang tinggal di tempat tersebut. 

Erlan menjelaskan, saat ini, pihaknya berupaya memediasi perusahaan dengan masyarakat. Hasil mediasi sebelumnya belum ditemukan kata sepakat. Menurut Erlan, dalam pertemuan sebelumnya, perusahaan ingin memberikan lahan seluas 235 hektar untuk masyarakat. Namun, masyarakat meminta setidaknya 443 hektar dikelola masyarakat. Sampai akhir pertemuan kedua pihak tidak bersepakat.

Erlan juga menjelaskan, pihaknya bakal menambah personel ke lokasi kericuhan. Setidaknya 300 personel polisi dari Polda Kalteng dikirim ke Seruyan untuk mengamankan situasi.


Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng Rizky Badjuri mengatakan, pemda bersama pemerintah pusat sudah membentuk Satgas Tata Kelola Sawit. Ia berharap, satgas dapat segera menata kembali data perkebunan, mulai dari persoalan HGU hingga plasma. Rizky tidak banyak berkiatan terkait kerusuhan di Desa Bangkal, Seruyan. Ia berharap, situasi bisa segera kondusif sehingga semua pihak bisa mencari kesepakatan dalam komunikasi yang baik.

Posting Komentar

0 Komentar