Istri Wali Kota Bekasi Mengungsi ke Hotel Saat Banjir: Pilihan Bijak atau Kurang Empati?

Ditulis Oleh: Lewi Andra Kurniawan

Sumber Gambar: TikTok/rakyatbekasi.com, bangka.tribunnews.com

 

Karawang, 6 Maret 2025 – Media sosial tengah dihebohkan dengan video viral yang memperlihatkan istri Wali Kota Bekasi, Wiwiek Hargono, mengungsi ke hotel saat banjir melanda. Dalam video yang diunggah akun TikTok info update, terlihat Wiwiek Hargono meninggalkan rumah dinasnya yang ikut terendam banjir dan memilih menginap di sebuah hotel mewah.

Perekam video tersebut mengungkapkan bahwa pasangan Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengungsi ke Hotel Horison. Hal ini memicu perdebatan di kalangan masyarakat—apakah langkah ini merupakan pilihan bijak atau justru menunjukkan kurangnya empati terhadap warga yang terdampak banjir?  

Wiwiek Hargono, selain menjadi istri dari Wali Kota Bekasi, juga dikenal sebagai Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bekasi. Lahir di Jakarta pada 19 Februari 1974, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial di bidang wirausaha, seni dan budaya, pendidikan, serta pemberdayaan perempuan.  

Sebelum mendampingi suaminya sebagai Ibu Wali Kota Bekasi, Wiwiek sempat berkarier di dunia pelayaran dan memiliki wawasan luas mengenai pelabuhan. Ia juga seorang entrepreneur sebelum akhirnya memutuskan untuk fokus pada perannya sebagai istri Tri Adhianto, Wali Kota Bekasi periode 2025-2030, setelah sebelumnya menjadi Pelaksana Tugas Wali Kota periode 2022-2023,  dan Wakil Wali Kota Bekasi pada periode 2018-2022.  

Menanggapi kontroversi yang muncul, Tri Adhianto membantah tudingan bahwa istrinya ingin hidup mewah di tengah bencana. Ia menjelaskan bahwa rumah dinasnya sudah tidak layak dihuni akibat banjir, sehingga memutuskan untuk mencari tempat yang lebih aman dan kondusif bagi keluarganya.  

"Kami mencari tempat yang lebih kondusif untuk istri, bukan untuk kemewahan, tetapi agar tetap bisa menjalankan aktivitas," ujar Tri Adhianto, 5 Maret 2025, saat mengunjungi lokasi pengungsian di Kantor Logistik dan Peralatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang terletak di depan gerbang Perumahan Pondok Gede Permai (PGP), Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat.  

Keputusan Wiwiek untuk mengungsi ke hotel mendapat banyak kritik dari berbagai kalangan. Salah satunya berasal dari mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, yang berpendapat bahwa seorang pejabat publik seharusnya memperlihatkan solidaritas kepada masyarakat di tengah krisis.

“Pemimpin harus berada bersama rakyat saat kesulitan, bukan mencari kenyamanan pribadi,”  tegas Dedi Mulyadi.  

Ketika ditanya awak media mengenai sanksi, Dedi mengatakan hal tersebut adalah wewenang Kemendagri, bukan pada Pemprov Jabar.  Menurutnya, Pemprov hanya memberikan pembinaan dan teguran.

"Sanksi tidak ada, itu kan (SK) nya Mendagri. Sebagai Gubernur bisa melakukan pembinaan berupa teguran." kata Dedi Mulyadi di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Kota Bandung (Jabar), Rabu 5 Maret 2025.

Sementara itu, warga Bekasi yang terdampak banjir merasa kecewa dengan tindakan istri Wali Kota. Banyak yang mengeluhkan kondisi pengungsian yang penuh sesak dan kurang nyaman, sementara pejabat daerah justru mengungsi ke tempat yang lebih nyaman.  

Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya kepemimpinan yang berempati terhadap rakyat, terutama dalam situasi darurat seperti bencana banjir. Masyarakat berharap agar para pemimpin dan keluarganya dapat memberikan contoh yang lebih baik dalam menghadapi kesulitan bersama rakyat.

Keputusan seorang pemimpin di masa krisis akan selalu menjadi sorotan. Oleh karena itu, sikap transparan, empati, dan keberpihakan kepada masyarakat adalah hal yang sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik.

Posting Komentar

0 Komentar