Perang 12 Hari: Serangan AS Gagal Lumpuhkan Nuklir Iran, Dunia Waspada

 

Ditulis oleh: Lewi Andra Kurniawan

Sumber gambar: CNN Indonesia 

Pada 24 Juni 2025, dunia dikejutkan dengan dimulainya serangan militer terbuka oleh Amerika Serikat terhadap Iran. Serangan ini menargetkan tiga fasilitas nuklir strategis yang terletak di Iran tengah, yaitu Natanz, Fordow, dan satu lokasi lain yang dirahasiakan. Ketiga fasilitas tersebut selama ini diketahui sebagai pusat utama program pengayaan uranium Iran.

Amerika Serikat Menyerang, CIA Klaim Kerusakan Parah.

Serangan dilakukan menggunakan rudal presisi tinggi. Dilansir dari BBC Indonesia (BBC, 2025), Amerika Serikat menyebut serangan ini sebagai upaya pencegahan terhadap kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir.

Direktur CIA, yang namanya tidak diungkapkan dalam laporan, menyampaikan: “Kerusakan yang terjadi tidak bisa diperbaiki dalam waktu dekat.”

CIA (Central Intelligence Agency), sebagai badan intelijen utama AS, telah lama memantau fasilitas nuklir Iran dan mempublikasikan analisis satelit serta informasi dari agen lapangan yang menyebut aktivitas pengayaan uranium Iran meningkat tajam sejak awal 2025.

Iran Melawan: Presiden Ebrahim Raisi Tegaskan Perlawanan

Presiden Iran, Ebrahim Raisi, seorang ulama konservatif dan mantan Ketua Mahkamah Agung, menyatakan penolakannya terhadap intervensi militer Amerika. Dalam konferensi pers yang dikutip oleh Kumparan News (Kumparan, 2025),

Raisi menegaskan bahwa Iran akan tetap melanjutkan program nuklirnya “Kami akan melawan dengan lebih kuat.” Tegas Raisi Ia juga menyebut serangan ini sebagai bentuk kolonialisme modern dan pelanggaran terhadap kedaulatan nasional Iran.

Lokasi Fasilitas Nuklir yang Diserang

1. Natanz – Terletak di Provinsi Isfahan, dikenal sebagai lokasi utama pengayaan uranium bawah tanah. 2. Fordow – Terletak dekat kota Qom, dibangun dalam gunung untuk melindungi dari serangan udara. 3. Situs Ketiga (Dirahasiakan) – Tidak disebutkan secara publik oleh CIA maupun pemerintah Iran, namun diduga berada di wilayah barat daya Iran dekat perbatasan Irak.

Rusia dan Tiongkok Bereaksi Keras

Sikap keras juga datang dari Rusia, sekutu geopolitik Iran. Dilansir dari CNN Indonesia (CNN Indonesia, 2025), Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia, menyatakan “Tindakan militer hanya akan memperburuk ketegangan global.”

Lavrov menuduh AS bertindak sepihak tanpa mandat PBB, dan menyebut hal ini sebagai bentuk provokasi yang membahayakan keamanan internasional.

Apakah Iran Sudah Punya Senjata Nuklir?

Meski Iran belum mengumumkan secara resmi kepemilikan senjata nuklir, dilansir dari Metro TV News (MetroTV, 2025), seorang analis pertahanan senior dari Institut Keamanan Global, yang tidak disebutkan namanya, mengatakan: 

“Iran mungkin belum punya bom, tapi sudah punya kuncinya.” 

Pernyataan ini menggambarkan bahwa Iran telah mencapai kapasitas teknologi yang sangat dekat dengan pengembangan senjata nuklir, meskipun belum mengumumkan secara resmi kepada dunia. 

Perang yang berlangsung selama 12 hari ini gagal melumpuhkan penuh program nuklir Iran. Dunia internasional kini cemas terhadap langkah balasan Iran yang mungkin bersifat agresif dan tertutup. Beberapa pengamat mengkhawatirkan bahwa serangan ini justru memicu semangat Iran untuk semakin mempercepat ambisi nuklirnya.

Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas Timur Tengah, di mana ketegangan antara kekuatan besar bisa sewaktu-waktu meledak menjadi konflik terbuka.

Posting Komentar

0 Komentar