Ditulis oleh: Zahra Febrianti
Sumber gambar: CNBC Indonesia
Jakarta, 28 Juli 2025 - Prancis secara resmi mengakui kedaulatan Palestina sebagai sebuah
negara. Keputusan tak terduga ini memunculkan harapan baru dari berbagai kalangan terhadap
masa depan Palestina.
Pernyataan resmi mengenai pengakuan Prancis terhadap negara Palestina diutarakan langsung
oleh Presiden Emmanuel Macron pada Kamis (24/7), sebagaimana dikutip dari Deutsche Welle.
Pengakuan ini dijadwalkan akan diumumkan secara resmi dalam Sidang Umum PBB pada
September 2025.
"Sejalan dengan komitmen bersejarah untuk perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah,
saya memutuskan Prancis akan mengakui Negara Palestina. Pengumuman resmi akan saya
sampaikan di Sidang Umum PBB pada September," tulis Macron di media sosial.
Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, mengecam langkah Presiden Prancis Emmanuel
Macron yang mengakui Palestina sebagai negara. Ia menyebut keputusan itu sebagai
"penghargaan terhadap teror" dan memperingatkan bahwa hal tersebut bisa memunculkan proksi
Iran lain, sebagaimana yang terjadi di Gaza.
"Kami dengan keras mengecam keputusan Presiden Macron untuk mengakui negara Palestina di
dekat Tel Aviv pasca-pembantaian 7 Oktober," tulis Netanyahu di X.
"Negara Palestina dalam kondisi seperti ini akan menjadi pangkalan untuk menghancurkan
Israel, bukan untuk hidup berdampingan secara damai. Jelas sekali: Palestina tidak
menginginkan negara di samping Israel, mereka menginginkan negara pengganti Israel," ujar
Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Pada Kamis (24/07), Otoritas Palestina menyatakan apresiasi atas pernyataan Presiden Prancis
Emmanuel Macron mengenai rencana Prancis untuk mengakui Palestina sebagai negara di
Sidang Umum PBB September mendatang.
Hussein al-Sheikh, Wakil Presiden Otoritas Palestina, mengatakan bahwa langkah Prancis ini
mencerminkan komitmennya pada hukum internasional serta dukungan terhadap perjuangan
rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaan dan menentukan masa depannya sendiri.
Masih pada hari yang sama, Presiden Macron menyampaikan surat kepada Presiden Otoritas
Palestina Mahmoud Abbas, menegaskan bahwa Prancis berkomitmen untuk terus mendorong
pengakuan resmi terhadap Palestina.
Pedro Sanchez, Perdana Menteri Spanyol, menyatakan dukungannya atas keputusan Prancis
untuk turut mengakui Palestina sebagai negara merdeka, seraya menekankan bahwa langkah
tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan solusi dua negara atas konflik Israel-Palestina.
"Bersama, kita harus melindungi apa yang coba dihancurkan Netanyahu. Solusi dua negara
adalah satu-satunya solusi," tulis Perdana Menteri Spanyol di X.
Melalui unggahan di X, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan penolakan terhadap
rencana Macron mengakui Palestina. Ia menyebut langkah itu sebagai keputusan sembrono yang
mendukung narasi Hamas, menghambat proses perdamaian, dan merupakan bentuk tidak sensitif
terhadap para korban peristiwa 7 Oktober.
Anwar Iskandar selaku Ketua MUI menyebutkan bahwa pihaknya terus mengikuti
perkembangan kebijakan pemerintah. Ia mengatakan bahwa pemerintah masih fokus
menunjukkan komitmennya terhadap rakyat.
"Lewat mimbar ini, saya ingin mengatakan, tidak ada kata lain bagi Majelis Ulama untuk terus
membersamai Presiden Republik Indonesia. Karena apa? karena program-program itu dan
sikap-sikap itu amat Islami, sesuatu yang Islami harus didukung oleh ulama," ungkap Anwar
dalam sambutannya saat acara Milad ke-50 MUI di Asrama Haji, Jakarta Timur, Sabtu (26/7).
Menyoroti situasi di Palestina, Ketua MUI menyatakan bahwa pihaknya menganggap tindakan
Israel sangat kejam. Ia berharap semakin banyak negara yang mendukung kemerdekaan
Palestina, apalagi setelah beberapa negara Eropa mengecam keras kekejaman Israel.
"Mudah-mudahan, dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka akan berpidato di United
Nations, di PBB, untuk memproklamirkan dukungannya terhadap Free Palestine itu," ujar Anwar
Iskandar, selaku Ketua MUI.
Menanggapi pernyataan Presiden Macron, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menyatakan
bahwa langkah tersebut merupakan momentum strategis yang dapat memperkuat perjuangan
rakyat Palestina dalam meraih kemerdekaan dan pengakuan internasional.
"Kita sambut gembira karena dengan demikian jumlah negara-negara maju yang mendukung
perjuangan rakyat Palestina untuk menjadi negara yang merdeka dan berdaulat akan semakin
meningkat," kata Anwar saat dihubungi, Minggu (27/7).
Menurut Anwar, keputusan Prancis ini dapat membawa pengaruh yang signifikan bagi Palestina.
Ia juga menyoroti sejarah Prancis yang selama ini lebih condong mendukung Israel dalam
konflik Gaza.
"Apalagi Prancis selama ini dikenal sebagai negara sekutu dan pendukung berat Israel bersama
Inggris dan Amerika. Tindakan Prancis ini tentu jelas sangat membantu perjuangan rakyat
Palestina," ujar Anwar.
"Kita berharap dengan adanya perubahan sikap Prancis ini juga akan bisa diiringi oleh
negara-negara lain sehingga diharapkan berdirinya sebuah negara Palestina yang merdeka dan
berdaulat yang bisa tegak sama tinggi dan duduk sama rendah dengan negara-negara lainnya
akan bisa segera terwujud," jelas Anwar.
Ketua PBNU, Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, menyambut baik keputusan Presiden Prancis
Emmanuel Macron yang menyatakan bahwa Prancis akan mengakui negara Palestina dalam
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia berharap langkah tersebut menjadi titik
awal menuju kemerdekaan penuh bagi bangsa Palestina.
"Kita bersyukur dan berharap pengakuan itu menjadi langkah yang sangat positif untuk
memastikan prospek masa depan bagi berdirinya negara Palestina yang berdaulat dan merdeka,
berdasarkan batas wilayah yang disepakati pada 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu
kotanya," kata Gus Fahrur saat dihubungi, Minggu (27/7).
Menurut Gus Fahrur, penderitaan rakyat Palestina akibat serangan militer Israel telah
berlangsung terlalu lama. Ia menegaskan bahwa PBNU mendorong pemerintah Indonesia agar
mengajak negara-negara lain mengikuti jejak Prancis dalam memberikan pengakuan terhadap
kemerdekaan Palestina.
"Sudah terlalu lama penderitaan bangsa Palestina. Kita mendorong agar pemerintah negara
Indonesia yang sudah berkomitmen penuh mendukung sepenuhnya kemerdekaan Palestina untuk
terus mengajak negara lainnya bersama-sama berjuang mewujudkan perdamaian dan
kemerdekaan Palestina," ujar Gus Fahrur.
Keputusan Prancis untuk mengakui Palestina semakin memperluas daftar negara Eropa yang
mendukung kemerdekaan Palestina. Sebelumnya, Armenia, Slovenia, Irlandia, Norwegia, dan
Spanyol juga telah menyatakan pengakuan resminya.
Hingga kini, Palestina telah memperoleh pengakuan dari 147 negara anggota PBB,
merepresentasikan sekitar 75 persen dari keseluruhan komunitas internasional. Takhta Suci
Vatikan, sebagai otoritas tertinggi Gereja Katolik, juga mengakui Palestina, meskipun hanya
memiliki status pengamat di dalam struktur PBB.

0 Komentar