Genosida di Gaza Dinyatakan Berakhir Setelah Hamas Serahkan Sandera Terakhir

 

Ditulis oleh: Dhaniel Faturahman

Sumber Gambar: detikNews

Bekasi, 14 Oktober 2025 — Setelah dua tahun genosida yang menghancurkan dan mengguncang Jalur Gaza di kawasan Timur Tengah, Israel dan Hamas akhirnya mencapai kesepakatan bersejarah untuk mengakhiri konflik. genosida yang menelan ribuan korban jiwa itu resmi berakhir setelah Hamas menyerahkan kelompok terakhir dari sandera Israel yang masih hidup, sementara Israel membebaskan ribuan tahanan Palestina sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.

Kesepakatan damai tersebut diumumkan pada Senin malam (13/10/2025) dan langsung disambut dengan kelegaan dari berbagai belahan dunia. Di Gaza sendiri, ribuan warga Palestina mulai kembali ke kota mereka pada Selasa pagi (14/10/2025). Mereka berjalan melewati reruntuhan bangunan yang hancur akibat gempuran udara, mencari keluarga yang hilang, dan berusaha menemukan sisa-sisa kehidupan di tengah puing-puing bangunan yang telah runtuh. Setelah sekian lama, suara tembakan dan ledakan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari akhirnya benar-benar berhenti.

“Langit kini tenang, senjata sudah berhenti, sirene tidak lagi berbunyi, dan matahari terbit di Tanah Suci yang akhirnya damai,” kata Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam konferensi pers di Washington DC, dikutip dari CNN Indonesia (14/10/2025). 

Ia menyebut perjanjian ini sebagai “awal dari era baru di Timur Tengah” dan menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawasi pelaksanaan kesepakatan damai tersebut agar tidak kembali pecah menjadi konflik bersenjata.

Pihak Hamas mengonfirmasi bahwa seluruh sandera Israel yang masih hidup telah diserahkan ke perbatasan Rafah pada Senin malam (13/10/2025). Sebagai gantinya, Israel membebaskan ribuan tahanan Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, dalam proses pertukaran yang disaksikan langsung oleh para perwakilan Mesir dan Amerika Serikat. 

“Kami telah menerima jaminan dari para mediator dan dari Amerika Serikat bahwa perang di Jalur Gaza telah berakhir sepenuhnya,” ujar juru bicara Hamas dalam pernyataannya, dikutip dari Metro TV News (14/10/2025).

Perjanjian ini merupakan puncak dari serangkaian negosiasi intensif yang digelar di Sharm El-Sheikh, Mesir, selama beberapa minggu terakhir. Dalam tahap kedua kesepakatan, akan dibentuk pemerintahan sementara di Gaza tanpa keterlibatan langsung Hamas. Pemerintahan ini nantinya akan didukung oleh pasukan keamanan gabungan yang terdiri dari warga Palestina serta perwakilan negara-negara Arab dan Islam, dengan mandat untuk menjaga stabilitas dan memastikan pemulihan pasca perang berjalan lancar.

Sementara itu, Israel juga berkomitmen membuka kembali akses bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, termasuk jalur masuk untuk bahan makanan, obat-obatan, air bersih, serta kebutuhan pokok lain yang selama ini tertahan akibat blokade. Pemerintah Mesir dan Qatar dilaporkan turut berperan dalam memastikan distribusi bantuan berlangsung aman dan terkoordinasi. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat Gaza yang telah mengalami krisis kemanusiaan selama dua tahun terakhir.

Menurut laporan DetikNews, ribuan warga mulai memadati jalanan di pusat Kota Gaza pada Selasa pagi (14/10/2025). Banyak di antara mereka membawa bendera Palestina dan mengangkat poster bertuliskan pesan perdamaian. Suasana yang dulunya dipenuhi suara sirine kini berubah menjadi gema takbir dan tangisan haru.

“Saya hanya ingin hidup normal lagi. Tidak ada yang tersisa dari rumah kami, tapi setidaknya sekarang kami bisa bernafas tanpa rasa takut,” tutur seorang warga Gaza dengan mata berkaca-kaca, dikutip dari DetikNews (14/10/2025).

Laporan serupa juga disampaikan Metro TV News, yang menggambarkan bagaimana keluarga-keluarga kembali berkumpul di antara puing-puing rumah, sementara anak-anak bermain di jalanan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan.

Meski perdamaian ini disambut dengan rasa syukur, sejumlah analis politik menilai bahwa kesepakatan tersebut masih rentan terhadap pelanggaran. Tantangan besar menanti, terutama dalam hal keamanan wilayah, pembentukan otoritas pemerintahan baru, serta proses pelucutan senjata milik kelompok Hamas yang masih menyimpan potensi konflik di masa depan.

“Gencatan senjata ini baru langkah awal, bukan akhir dari perjalanan panjang menuju perdamaian sejati,” ujar seorang analis Timur Tengah, dikutip dari Kompas.id (14/10/2025).

Namun bagi warga Gaza, penghentian perang ini menjadi secercah harapan di tengah kehancuran. Kota yang dulu gelap kini perlahan kembali diterangi lampu-lampu. Toko-toko kecil mulai buka, pasar-pasar darurat berdiri di tepi jalan, dan masjid kembali dipenuhi jamaah yang bersyukur karena bisa beribadah tanpa ancaman bom. Anak-anak terlihat berlarian di reruntuhan bangunan, seolah mencoba menghidupkan kembali tawa yang telah lama hilang.

Kini, seluruh mata dunia tertuju pada Gaza. Banyak pihak berharap bahwa kesepakatan ini benar-benar menjadi awal dari stabilitas yang berkelanjutan di wilayah yang selama puluhan tahun dilanda peperangan. Meski luka perang masih membekas, banyak warga percaya bahwa kedamaian yang baru lahir ini akan menjadi pondasi bagi masa depan yang lebih damai bukan hanya bagi Palestina dan Israel, tetapi juga bagi seluruh kawasan Timur Tengah.

Posting Komentar

0 Komentar