Ditulis Oleh: Puput Meilani
Sumber Gambar: STIE Stekom
Jakarta, 15 Oktober 2025 – Stasiun televisi swasta nasional Trans7 tengah menjadi sorotan publik setelah salah satu segmen dalam program mereka dituding menyinggung martabat Pondok Pesantren Lirboyo, Provinsi Kediri. Tayangan tersebut dianggap tidak menghormati nilai-nilai kesopanan dan spiritualitas yang dijunjung tinggi oleh pesantren legendaris tersebut.
Sebagai informasi, Pondok Pesantren Lirboyo bukanlah institusi pendidikan biasa. Berdiri sejak tahun 1910, pesantren ini dikenal sebagai salah satu pondok terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Selama lebih dari satu abad, Lirboyo menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama, tokoh agama, dan pemimpin masyarakat.
Kontroversi bermula dari tayangan program “Xpose Uncensored” pada Senin, 13 Oktober 2025, dengan judul episode yang dinilai provokatif: “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?” Judul serta narasi dalam segmen tersebut memicu gelombang protes di media sosial. Tagar #BoikotTrans7 pun menjadi trending di platform X (sebelumnya Twitter) dan menuai berbagai kecaman dari warganet.
Narasi dalam tayangan itu dianggap merendahkan para santri dan melecehkan sosok KH. Anwar Manshur, kiai sepuh Pondok Pesantren Lirboyo. Banyak pihak menilai framing yang digunakan telah menodai nilai kesucian hubungan antara kiai dan santri—sebuah hubungan yang didasari ta’dzim (penghormatan) dan pengabdian spiritual. Alih-alih menampilkan sisi keilmuan dan religiusitas pesantren, program tersebut justru dianggap menyajikan sudut pandang sinis terhadap kehidupan para santri.
Menanggapi hal tersebut, Ikatan Keluarga Alumni Asshidiqiyah (IKLAS) beserta jajaran pengurus dan seluruh alumninya menyampaikan sikap tegas atas penayangan konten Trans7 itu. Mereka menyatakan bahwa media semestinya lebih berhati-hati dalam mengangkat tema keagamaan agar tidak menyinggung institusi pendidikan Islam maupun tokoh-tokohnya.
Di tengah derasnya desakan publik, pihak Trans7 akhirnya merespons dengan cepat. Melalui pernyataan resmi yang diunggah di akun media sosial mereka pada Selasa pagi, 14 Oktober 2025, Trans7 menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Mereka mengakui adanya ketidaksensitifan dalam penyusunan narasi dan berkomitmen untuk melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Meski permintaan maaf telah disampaikan, warganet masih terus memperdebatkan langkah lanjutan yang seharusnya diambil oleh pihak stasiun televisi. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi industri media untuk lebih berhati-hati dalam menayangkan konten yang menyangkut nilai keagamaan dan kehormatan institusi pendidikan Islam di Indonesia.
0 Komentar