Pemprov DKI dan Adhi Karya Bahas Skema Pembongkaran Tiang Monorel di Rasuna Said

 

Ditulis Oleh: Khairunnisa Zabrina Salsabila

Sumber Gambar: Kompas.com 


Jakarta, 27 Oktober 2025 – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyarankan rencana pembongkaran tiang monorel (sistem transportasi yang menggunakan rel tunggal) kini mangkrak di Jalan H.R Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan yang akan dimulai pada Januari 2026. Pramono menyampaikan, Pemprov DKI Jakarta tengah fokus membangun Jakarta, pembangunan yang dilakukan tidak hanya di kawasan padat seperti Jakarta Pusat atau jalan Sudirman, tapi juga di daerah-daerah lain termasuk penataan di bawah kolong-kolong jalan tol.

Tiang-tiang tersebut merupakan sisa proyek Monorel Jakarta yang terbengkalai hampir 20 tahun tepatnya sejak tahun 2014 dan kini dinilai mengganggu estetika kota serta keselamatan publik. Pramono menegaskan pembongkaran akan dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan di kawasan padat lalu lintas tersebut. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang berkoordinasi dengan Kementerian BUMN serta pihak pengembang lama untuk memastikan proses pembongkaran berjalan sesuai aturan.

Pramono Anung menilai proyek mangkrak seperti monorel merupakan simbol dari kegagalan tata kelola proyek publik di masa lalu, dan pembongkaran menjadi langkah untuk menata ulang wajah Jakarta. Keberadaan tiang-tiang monorel yang tak lagi berfungsi itu tidak hanya merusak keindahan kota, tetapi juga menimbulkan persoalan baru seperti kemacetan lalu lintas dan potensi kecelakaan di sejumlah titik jalan utama.

Perusahaan pemilik tiang monorel mangkrak, PT Adhi Karya (Persero) Tbk menyatakan pihaknya mendukung rencana pembongkaran tiang monorel, sekretaris perusahaan Adhi Karya, Rozi Sparta, mengatakan perusahaannya telah melakukan pertemuan dengan Pemprov Jakarta untuk membahas langkah pendampingan hukum mengenai rencana pembersihan dan pembongkaran tiang eks monorel. 

“Skema final atas mekanisme pelaksanaan dan/atau kegiatan tersebut saat ini masih dalam tahap pembahasan lanjutan bersama para pemangku kepentingan terkait, agar pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Rozi dikutip dari Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, Senin (27/10/2025).

PT Adhi Karya, sebagai pemilik aset proyek monorel, menyatakan siap berkoordinasi dengan Pemprov DKI namun menegaskan pembongkaran tidak dapat dilakukan sepihak karena status aset masih berada di bawah  tanggung jawab perusahaan.

Rozi menjelaskan, aset eks Tiang Monorel tercatat dalam pos Aset tidak lancar pada laporan keuangan ADHI. Berdasarkan laporan keuangan ADHI per 30 September 2025, nilai persediaan berupa eks tiang-tiang monorel atas pemberhentian proyek Jakarta Monorel tercatat sebesar Rp13,02 miliar. Angka itu telah dikurangi penurunan nilai masing-masing sebesar Rp79,36 miliar per 30 September 2025 dan Rp73,01 miliar per 31 Desember 2024. 

“Sehubungan dengan rencana pembersihan, pembongkaran tiang Monorel yang akan dilakukan Pemprov DKI Jakarta, terdapat hak keperdataan dan nilai atas kepemilikan aset tiang monorel milik ADHI,” terang Rozi, Sabtu (18/10/2025).

Pramono menegaskan, Pemprov DKI telah merencanakan upaya penyelesaian masalah tiang monorel yang terbengkalai lama itu. Bahkan dalam Rapat Paripurna Pemprov DKI Jakarta, Pramono mengaku telah memberikan batas waktu untuk memulai pembongkaran. 

“Dalam rapat paripurna DKI Jakarta, saya sudah memberikan batas waktu. Mudah-mudahan Januari segera bisa kita mulai, dan 2026 bisa selesai serta membuat Jakarta, terutama di wilayah Rasuna Said, menjadi lebih baik,” ucap Pramono pada Selasa (21/20/2025). 

Beberapa pengamat menilai langkah ini sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah terhadap penataan kota, namun menekankan pentingnya transparansi biaya dan pemanfaatan kembali material bekas pembongkaran.

Pramono Anung menyampaikan bahwa pembongkaran tiang-tiang monorel di kawasan Rasuna Said dan Senayan akan dimulai pada Januari 2026, dengan sisa lahan bekas proyek mangkrak itu akan ditata menjadi area pedestrian yang lebih representatif, dengan konsep menyerupai trotoar di Jalan MH Thamrin dan Jalan Jendral Sudirman. 

“Kami perbaiki dan kami buat jalan lebih lebar, tempat monorelnya kami hilangkan, dan saya yakin akan membuat Rasuna Said, Kuningan itu menjadi jalan yang lebih baik. Trotoar pedestrian di kiri kanannya nanti akan kami perbaiki sehingga yang baik tidak hanya di Sudirman-Thamrin,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Jumat (17/10/2025).

Warga Jakarta menyambut positif rencana tersebut karena selama ini tiang monorel dianggap merusak pemandangan dan membahayakan pengguna jalan. Pembongkaran ini juga banyak mendapatkan banyak masukan hingga kritik dari beberapa masyarakat yang melintasi daerah tersebut.

Ardian selaku warga yang melintasi area pembongkaran menilai lahan berkas tiang monorel lebih baik digunakan untuk pelebaran jalan ketimbang pembangunan trotoar baru. 

“Di Rasuna Said itu yang paling dibutuhkan sekarang tuh pelebaran jalan. Macetnya udah parah tiap pagi dan sore,” ujarnya pada Senin (20/10/2025). 

Ninda selaku warga juga yang kerap melintas di kawasan itu, menyayangkan proyek monorel yang mangkrak dan kini akan dibongkar. 

“Kalau dilihat dari sisi warga, sayang banget ya proyek sebesar itu ujung-ujungnya mangkrak lalu dibongkar. Terus nanti dibongkar pun pasti pakai dana lagi. Jadi kesannya anggaran publik kayak mubazir dua kali,” ujar Ninda, Senin (20/10/2025). 

Ia sangat mengharapkan saat proses pembongkaran tidak dilakukan pada jam sibuk agar tidak memperparah kemacetan di kawasan tersebut. 

“kalau nanti dibongkar, saya cuma harap jangan pas jam sibuk. Jalan Rasuna Said itu kan sudah padat tiap pagi dan sore,” timpalnya. 

Jika sesuai rencana, proses pembongkaran tiang monorel akan menjadi bagian dari program revitalisasi koridor Rasuna Said yang ditargetkan rampung sebelum akhir 2026.

Posting Komentar

0 Komentar