Aku Alvin Rahendra, seorang lelaki muslim di
kota metropolitan tempatku tinggal ini. Tentu saja memang tidak mudah. Begitu banyak godaan dan cobaan yang
menghampiri. Namun, aku yakin
Allah SWT akan selalu ada untuk membantuku.
“Bro,
makan siang bareng, yuk!”
Sebuah teriakan terdengar dari arah pintu. Tanpa perlu ditebak, aku sudah dapat mengenali suaranya. Hanya ada satu orang yang berani berteriak seperti itu
di ruanganku, itu Kriss—sahabatku.
Kriss
Anderson nama lengkapnya. Dia itu sahabatku
semasa kuliah dulu. Kejadian tidak terduga
mengantarkan kami bertemu hingga menjadi sahabat sampai saat ini. Kepribadiannya yang ramah dan asyik membuatku nyaman berteman dengannya. Namun, kami
sedikit berbeda. Kriss yang memakai salib di lehernya tidak selaras dengan tasbih di tanganku. Meski begitu, rasa toleransi dalam diri kita masing-masing
sangatlah kuat.
Aku tetap
terdiam tidak menghiraukannya. Fokus serta arah
pandangku tidak berubah sedikit pun dari layar laptop dan papan keyboard.
Sebab tugas laporan akhir bulan yang menumpuk harus segera aku selesaikan.
Bunyi laptop
yang tertutup cukup keras mampu mengalihkan atensiku pada Kriss. Kutatap
dirinya penuh tanda tanya. “Kenapa?”
“Lihat jam
dulu makanya!” ujarnya memberi perintah.
“Astaghfirullah.”
Aku terkejut kala mendapati jam tanganku menujukkan pukul dua siang. Sekitar
satu jam setengah lagi waktu zuhur akan habis. Untungnya Kriss datang
menghampiriku. Bila tidak, mungkin saja aku akan meninggalkan waktu zuhur
karena kelalaianku. Inilah yang aku suka dari dirinya. Bila kesibukan menyita
waktuku, dengan senang hati Kriss akan menegur diriku. Walaupun sejujurnya aku cukup kesal karena
dia baru saja menutup laptop milikku dengan kasar.
Aku pun
segera mengambil wudu dan melaksanakan salat zuhur di sebuah kamar khusus yang tersedia di dalam ruangan ini.
Selepas menyelesaikannya, aku kembali duduk di ruangan Kriss berada.
“Mau
delivery atau makan di kantin?” tawarku padanya.
“Delivery
aja yang gampang. Bayarin sekalian ya biar
rezekinya berkah.”
Aku
mengangguk lalu tersenyum kala Kriss menambahkan doa di akhir kalimatnya.
Lima menit
berlalu, pesanan yang kami pesan pun tiba. Dengan membaca doa di awal, aku memakan makananku dengan tenang. Rasanya
bersyukur kala diri ini masih mampu menikmati hidangan lezat dan halal ini.
“Vin!”
panggil Kriss disela kunyahannya.
“Hm?” tanggapku bergumam.
“Kalau gue
cerai sama Laura gimana?”
Seketika aku tersedak mendengar pertanyaan yang ia ucapkan. Cerai?
*
* *
“Iya, Bun, hari ini
Insya Allah Alvin pulang ke rumah.”
“Iya, Bun, Alvin ingat kok. Nanti sehabis salat magrib Alvin pulang.”
“Masih di mall, Bun. Iya, nanti Alvin belikan kue kesukaan bunda, ya?”
“Ya, Bun, waalaikum—“
“AW!”
Aku menunduk
saat menyadari menabrak sesuatu. Meringis melihat sesosok
gadis kecil terjatuh menatap nanar es krim di genggamannya.
“Bun, Alvin
pamit. Assalamualaikum.”
Aku
berjongkok selepas menutup panggilan telepon tanpa menunggu jawaban dari seberang. Aku samai tubuhku dengan sosok gadis kecil bermata biru
yang kutabrak tadi. Aku membantunya berdiri,
lalu aku ajak dirinya duduk di bangku panjang di
depan sebuah kedai kopi.
“Hi, are
you okay?” tanyaku berbahasa Inggris.
Tentu bukan tanpa sebab aku mengajaknya berbicara bahasa asing. Sebab dilihat dari rambut cokelat,
mata biru, dan kulit putih yang dimilikinya, sepertinya ia merupakan turis
asing yang sedang berkunjung.
Gadis kecil
itu mengangguk tanpa banyak bicara. Ia terlihat
menunduk seraya memainkan ujung bajunya. Mungkin ia merasa sedih karena
kehilangan es krimnya, pikirku dalam hati.
“Hi,
waiting here, okay?” Gadis
kecil itu kembali mengangguk. Dengan sedikit berlari, aku pergi menuju sebuah
kedai es krim yang tidak jauh di sana. Dengan
segera, aku pesankan es krim cone rasa stroberi. Persis seperti punyanya
yang jatuh akibat aku tabrak.
“This is
for you!” Kuserahkan es krim itu di hadapannya.
Namun, gadis kecil itu masih terlihat enggan mengangkat kepalanya. Perlahan,
kudengar suara isakan kecil dari bibir mungilnya. Tanpa ragu aku bawa ia kedalam pelukanku, bermaksud menenangkan.
Setelah
tenang, aku memberikan
ia segelas
air putih yang kubeli dari kedai kopi tadi. Lalu aku serahkan kembali es krim yang sudah hampir meleleh
itu. “Hmm… what’s your name?”
“Nausha,” jawabnya lirih.
“Don’t be
afraid. I’m a good person.” Perlahan ku genggam tangan kecilnya, memberi
ketenangan. “Don’t worry, you’re safe with me. So, where are your parents?”
“Mami ....”
“NAUSHA!”
Belum sempat
gadis kecil itu melanjutkan ucapannya, sebuah teriakan mengalihkan perhatian kami.
Seorang
wanita dengan wajah paniknya terlihat menghampiri gadis kecil itu. Bisa kutebak
bila wanita itu merupakan ibu dari gadis kecil ini karena dilihat dari fisiknya beliau tampak serupa dengan gadis kecil itu.
Tanpa kuduga, wanita itu menarik dengan kasar tangan mungil milik Nausha.
Memaksanya mengikuti ke mana wanita
itu melangkah.
“Sorry
Miss your child so look difficult to walk,” tegurku sopan. Rasanya sungguh tidak tega melihat
gadis kecil itu berjalan dengan terseok-seok.
“Ada hak apa
Anda berbicara seperti itu?” ujarnya ketus kala tubuhku
menghalangi langkahnya.
Aku tertegun
mendengarnya. Bukan karena nada bicaranya yang ketus, namun lebih kepada
logatnya yang terlihat lancar berbicara Bahasa Indonesia. Sepertinya ia
sudah cukup lama tinggal di negara ini.
Aku sedikit
berdeham, menetralkan rasa terkejutku. “Saya
memang tidak mempunyai hak apa-apa disini. Tapi apakah baik bila seorang ibu
memperlakukan anaknya sendiri seperti tadi?”
Wanita itu
berdecih, “Tidak perlu ikut campur urusan saya.” Dia melirikku sinis. “Urus
saja urusan Anda sendiri!”
Aku mengelus
dada. Melafalkan istighfar berkali-kali dalam hati. Mencoba bersabar menghadapi
wanita di hadapanku ini.
“Laura!
Nausha!”
Alih-alih
membalas ucapannya, aku memilih menoleh saat sebuah suara yang tidak begitu asing aku dengar. Dan benar saja, seorang lelaki yang tidak
lain adalah sahabatku, Kriss terlihat menghampiri kami. Ia tengah melangkah
bersama dengan seorang wanita berpakaian minim. Berbagai tas belanjaan tampak
bertengger di tangan kirinya.
“Ngapain
ngajak Nausha ke sini?”
tanyanya pada wanita di hadapanku ini.
“Terpaksa.
Disuruh mama.”
Aku
mengernyit heran melihat interaksi mereka yang terlihat begitu akrab. “Kalian
saling kenal?”
Kriss
mengangguk santai. “Dia Laura istri sah gue. Dan itu Nausha anaknya.”
“Heh, dia
anak lo juga kali!” ujar Laura mendelik tidak terima.
“Terus tuh
cewek siapa?” tunjukku dengan dengan dagu pada wanita
di sampingnya.
“Ini?” Kriss
tersenyum, merangkul mesra wanita di sampingnya. “Kenalin dia Calandra Ametta
Mabella, cewek gue,” ujarnya
bangga.
Aku tidak
terkejut lagi ketika mendengar status wanita di samping Kriss.
Persahabatan yang terjalin di antara kami
membuat ia terlihat begitu terbuka. Terlepas dari keyakinan, segala
permasalahannya termasuk kehidupan rumah tangganya yang tidak baik, ia ceritakan padaku. Aku memang sudah mendengar nama kedua
perempuan di hadapanku ini. Namun, aku tidak pernah sekali pun melihat rupa mereka. Jadi, wajar saja bila aku tidak mengenal mereka.
Memang istri
sahnya saat ini bukanlah perempuan yang ia cintai. Namun, gadis di sampingnya
lah sosok yang ia cintai itu. Sebuah tragedi yang tidak diinginkannya yang membuat dia menikahi istrinya itu. Dan berakhir menjalin hubungan backstreet dengan
kekasihnya itu. Inilah yang membuatnya selalu menginginkan bercerai dari istrinya
terlepas dari rasa kasihan pada putrinya.
Wanita di
samping Kriss terlihat mendekat. “Metta,” ujarnya menyodorkan tangannya bermaksud berkenalan.
Aku
menangkupkan kedua tanganku, memberinya pengertian. Karena di dalam agama
islam, seorang lelaki dan perempuan yang bukan mahram dilarang bersentuhan dan
berduaan. “Alvin,” ucapku memperkenalkan diri.
Kriss
mendekat, menyadari keheranan Metta yang tidak kubalas jabatan tangannya. “Dia
seorang muslim,” ujarnya menjelaskan. Kini wanita itu
mengangguk mengerti. “Vin, gue pamit duluan ya.
Kasihan cewek gue kecapekan.” Kriss menoleh ke arah istri
sahnya itu. “Pulang gih! Kasihan anak lo kecapekan gitu. Bilang sama mama gue
pulang malam.”
“Dia. Anak.
Lo. Juga. Kriss.” Laura berucap penuh penekanan.
Kriss
mengedikkan kedua bahunya tak acuh. “Bro,
gue pamit!” ujarnya berlalu meninggalkan kami.
Selepas
kepergian mereka berdua, aku kembali mengalihkan perhatianku pada gadis kecil itu. Ia terlihat menunduk
dalam diam sejak tadi. Aku meringis dalam hati, menyadari mungkin saja
kehadirannya tidak diinginkan kedua orang tuanya. Namun, gadis kecil itu bisa
apa? Ia hanya bisa pasrah menerima takdir tanpa mampu
menolak, bukan?
“Ayo Nausha
ikut Mami pulang!”
“Tunggu, apa
Anda bawa kendaraan?”
“Kenapa memangnya?”
“Jika tidak, bagaimana bila ikut dengan saya?” tawarku. Kulihat
matanya yang memicing menatapku curiga. “Jangan salah paham. Saya hanya merasa
tidak tega melihat putri Anda. Dia
terlihat sangat kelelahan.”
Dia diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan berjalan
lebih dulu menuju area parkir.
“Tunggu!”
“Apa lagi
sekarang? Nggak tau apa saya udah capek
banget?!” sahutnya kesal.
Aku meringis
mendengar nada yang bertambah ketus
itu. Aku menghela napas perlahan.
“Saya hanya ingin menggendong putri Anda, apakah
boleh?” ujarku meminta izin, bagaimanapun ia putrinya, bukan?
“Silakan kalau dia mau.”
Aku
mengangguk, berjalan menghampiri Nausha. Setelah mendapat persetujuan dari
Laura meski terkesan tersirat. Kuusap rambutnya perlahan sebelum kugendong tubuh
mungil itu. Dengan nyaman Nausha membenamkan wajahnya ke ceruk leherku.
“Kok dia mau?” tanya Laura dengan wajah terkejut.
“Ayo!”
ajakku mengabaikan pertanyaannya.
* * *
BACA JUGA : Cerpen - Don't Go
Terhitung
satu bulan sudah semenjak kejadian di mall kemarin. Sejak saat itu aku
jadi lebih sering berkunjung ke kediaman Kriss. Jika biasanya aku sulit diajak
ke sana, tapi kini dengan insiatif sendiri aku kemari demi menemui putrinya, Nausha
Sejak awal bertemu
aku memang sudah tertarik dengan Nausha. Selain karena parasnya yang cantik dan
imut, kepribadiannya yang tertutup dan murung membuatku ingin mengenalnya lebih
dekat. Sangat disayangkan bukan, bila di usianya yang masih belia ini, dia
sudah menjadi sosok yang acuh terhadap sekitarnya.
“Selamat
sore. Nausha, Om datang!”
“Om Vin!”
Sebuah teriakan terdengar dari arah dapur. Dengan langkah kecilnya Nausha
datang menghampiriku.
Kutangkap
tubuh kecil itu, lalu aku ayunkan
tubuhnya mengelilingi lantai ruang tamu. Suara tawanya memenuhi seisi ruangan
ini. Kini ia terlihat tampak begitu ceria dengan senyum lebarnya itu. Aku pun
ikut tersenyum senang karena usahaku mengembalikan senyum itu berhasil.
Tentu saja
tidak mudah usahaku untuk mendekatinya. Dibutuhkan usaha ekstra agar membuatnya
tidak takut menemui orang asing sepertiku. Karena
dipertemuan kedua kami ia terlihat bersembunyi ketakutan di balik kaki pengasuhnya. Nyatanya,
meskipun kita pernah bertemu sebelumnya, namun tetap membuat dia mewaspadaiku seperti orang asing. Rasanya sedih bila melihatnya, meskipun aku tahu hal itu wajar saat melihat pertemuan kami yang begitu tidak terduga dan singkat.
Gagal sekali
bukan berarti membuatku menyerah begitu saja. Di pertemuan berikutnya, aku
kembali datang dengan membawa beberapa mainan
yang aku tau banyak digemari anak-anak seusia
Nausha. Namun naas, lagi-lagi usahaku gagal. Bahkan kali ini parahnya, ia
sampai berlari ketakutan ketika melihatku, aku merasa seperti sosok
monster mengerikan di film kartun Monster Inc.
Lagi, aku
kembali menemuinya dan membawa beberapa bingkisan yang berbeda setiap dua
hari sekali. Aku tidak menyerah begitu
saja karena aku sangat yakin bila sebuah usaha tidak
akan mengkhianati hasil. Dan terbukti kemarin, saat aku sedang membacakannya
sebuah cerita, dengan sendirinya ia memintaku kemari untuk menemuinya esok hari. Dan dengan senang hati, hari ini aku kembali datang demi menepati janjiku.
“Lihat hari
ini Om bawakan es krim kesukaan Nauha.”
Kusodorkan sebuah cup ice cream rasa stoberi favoritnya. Berbeda saat
kemarin di mall, kini dengan senang hati ia menerimanya.
Dengan
semangat gadis kecil itu mengangguk. Tangannya begitu lihai menyendokkan suapan
demi suapan ke mulutnya. Mulutnya bersenandung kecil menikmati tiap lelehan es
krimnya. Kakinya mengayun indah tanda rasa bahagia.
Sebuah
tepukan kecil di pundakku
mengalihkan arah pandangku. Melihat sosok
tegap seorang ayah dari gadis kecil penerima es krimkku tadi.
“Udah cocok
lo buat ngasuh anak,” ucap Kriss
menatapku serius. Kuangkat sebelas alisku menunggu lanjutan ucapannya. Sudah
dapat diprediksi ke mana ujung pembicaraan ini.
“Besok
daftar ya buat nemenin si Onah,” lanjutnya
menyebut nama pengasuh dari putrinya.
Aku mendengkus
sebal sementara Kriss tertawa lepas melihat wajah masamku. Benar bukan prediksiku bila ujung-ujungnya
pembicaraan Kriss menyeleneh entah ke mana. Sifatnya yang menyebalkan dan humor terkadang membuatku secara
bersamaan bingung harus bersyukur atau tidak dapat berteman dengannya.
“Mau ke mana?” tanyaku pada Kriss. Dilihat dari penampilannya
yang tampak kasual, aku yakin bila kantor bukanlah tujuannya.
“Biasalah,” ujarnya santai. Aku hanya menanggapinya dengan
sebuah anggukan. Bila jawaban nya sudah seperti itu sudah dapat ku pastikan
kemana ia akan pergi. Tentu saja untuk menemui sang kekasih tercintanya.
*
* *
Selepas
menghabiskan es krimnya, Nausha mengajakku ke taman komplek perumahannya
seperti biasa. Setelah mendapat izin dari Kriss, aku mengajak Nausha beserta Laura mengunjungi taman
itu. Menikmati angin sore yang segar sekaligus melatih Nausha untuk
berinteraksi dengan sekitar. Bersama Laura, aku duduk mengawasi Nausha dari kejauhan. Sejak kemarin
pula, aku sedikit berdiskusi mengenai kondisi Nausha dengan Laura. Setidaknya
dari situ aku tahu bahwa seorang ibu tetap tidak akan pernah
tega menelantarkan anaknya.
Netra
hitamku tidak berhenti bergerak memandangi tubuh mungil Nausha. Ia terlihat begitu lincah mengejar seekor kupu-kupu bersama
seorang anak perempuan seusianya. Tawanya begitu lepas tanpa takut akan rasa lelah. Ya, begitu anak kecil. Hanya hal sederhana saja mampu mebuat mereka tertawa bahagia.
Hiruk pikuk
di sekitar taman nyatanya tidak membuat kecanggungan antara aku dan Laura dapat lepas begitu saja. Pembahasan
mengenai Nausha telah berakhir sudah. Rasanya sungguh sangat gugup. Belum lagi
melihat Laura yang duduk satu kursi denganku.
“Terima
kasih,” ujar Laura memecah keheningan.
Aku menoleh
sekilas. “Untuk apa?”
“Semuanya.”
Aku
mengangguk singkat, lalu tersenyum tipis. “Terima kasih juga.”
“Untuk apa?”
“Untuk usaha
dan perhatianmu kepada Nausha.”
“Bukankah
aku seorang ibu yang buruk?” tanyanya
sendu.
Dapat
kulihat wajah penyesalan di sana.
“Kamu benar. Di sini bukan Nausha yang salah, melainkan aku dan Kriss. Tidak seharusnya
ia kujadikan pelampiasan rasa kecewaku.”
“Yang lalu
biarkanlah berlalu. Yang terpenting kamu sudah mau memperbaikinya,” ujarku
menghibur.
Laura
tersenyum, lalu membuka sebuah kotak makan
berukuran sedang. “Ambil lah! Tadi aku dan
Nausha yang membuatnya. Nausha pasti akan sangat senang bila kamu memakan kue buatannya,” tawarnya padaku. Aku pun mengambil satu potong kue
cokelat itu untuk menghargainya.
Suasana kembali hening. Kebisuan pun kembali melanda
kami. Hingga suara decitan kursi membuatku menoleh ke kanan, tempat di mana Laura duduk. Wanita yang berstatus ibu muda
itu terlihat berdiri dari kursinya, bersiap pergi entah ke mana. Namun, baru lima langkah ia berjalan tubuhnya
terhuyung ke belakang ketika kakinya tanpa sengaja menginjak sebuah batu
berukuran sedang. Refleks, tubuhku
berdiri. Berusaha menahan tubuhnya yang hendak menghantam kerasnya tanah. Seperti kisah cinta klise pada
umumnya, aku yang berdiri di sisi kanannya
seraya menahan tubuhnya dengan kedua tanganku. Mata kami sempat beradu pandang
selama beberapa detik sebelum pada akhirnya ia jatuh terduduk akibat aku yang
melepaskan tanganku pada pinggangnya.
“AW!” aduhnya menjerit
kesakitan. Dengan wajah menahan amarah, Laura bangkit dari posisinya seraya
membersihkan belakang celananya yang kotor akibat tanah.
Setelah
berdiri sempurna, tanpa kuduga Laura dengan sengaja menginjak kaki kananku.
Sepatu heels setinggi lima sentimeter yang ia gunakan mampu membuatku menjerit kesakitan. Aku melotot padanya.
Bertanya-tanya sebab ia menginjakku.
“Kenapa!?
Sakit, ya?” tanyanya dengan nada bersirat mengejek. Ia maju selangkah,
memperkikis jarak di antara kami.
“Bagaimana dengan gue yang lo jatuhin gitu aja setelah di tolong? Kalau ending-nya kayak gitu mending dari awal lo ngga usah
pura-pura baik tolongin gue.”
“Maaf, saya
ngga bermaksud,” ujarku merasa bersalah.
Laura
berdecih, menatapku sinis. “Apa segitu jijiknya lo sama gue sampai nggak mau nyentuh gue?” tanyanya sarkas. “Berasa jadi kuman
aja deh.”
Aku
menghiraukan pertanyaanya, memilih kembali duduk seraya kembali memperhatikan Nausha yang masih tampak asyik bermain tanpa menghiraukan keributan yang kami
buat. Lalu, Laura pun menyusul mengikuti langkahku kembali duduk.
Aku
mengambil dua bungkus permen dari saku kemejaku. Kubuka bungkus salah satunya,
lalu kusodorkan kedua tanganku di hadapan Laura.
“Ngapain?”
tanya nya heran.
“Mana yang
akan kamu pilih?” tanyaku. “Yang ini?” Aku mengangkat tangan kananku, sebungkus permen utuh
terlihat di sana. “Atau yang ini?” Ku angkat kembali
tangan kiriku, daguku menunjuk ke arah permen
yang telah kubuka bungkusnya.
“Jelas ini
lah!” ujarnya mengambil sebungkus permen di tangan kiriku. “Kan lumayan udah di
bukain,” lanjutnya terkekeh.
“Apa saat
membeli sesuatu kamu lebih memilih yang terbuka dibandingkan dengan yang
terbungkus rapih?’
Laura
menggeleng tegas. “Kalau itu beda konsep lagi, dong. Memangnya kenapa?”
“Begitu pula
dengan Islam, menjaga dan menjunjung tinggi seorang wanita. Mana mau kan kita makan permen yang sudah di kepung serangga?
Atau makan bubur yang sudah tercampur debu. Dengan sebaik-baik tata cara Islam
tunjukkan untuk menjaga perempuan.”
“Tapi …,” sela Laura.
“Nah, tapi
memang sebagian wanita malah menjatuhkan dirinya sendiri. Sudah terbungkus
rapih tapi mempermalukan diri.”
“Berarti …,” sela Laura
lagi.
“Bukan salah
Islamnya. Tapi itu pilihan setiap individunya, Lau. Islam sudah menunjukkan jalannya, tapi bila
jalan lain yang mereka pilih, ya ... itu pilihan mereka”
“Gitu ya.
Sepertinya rumit,” ujar Laura.
“Bukan rumit
tapi indah,” sahutku menerawang.
Seperti kita. Laura membatin.
* * *
Malam telah
tiba. Dengan ditemani para bintang dan rembulan, aku merenung menatap langit dari arah balkon kamarku.
Sesuatu rasa yang salah tiba-tiba datang mengusik hatiku. Kala kedekatan dan
kenyaman terus mendekat. Sebisa mungkin aku menolak. Namun, semaikin kutepis,
semakin kuat pula rasa itu hadir. Aku tidak pernah memintanya. Tetapi rasa itu
datang dan memorak-porandakan semuanya.
Selain
karena syariat, inilah salah satu penyebabku membentang jarak untuk para
perempuan. Serta membangun tembok tinggi untuk rasa cinta yang berlebih kepada
yang bukan mahram. Bukan. Bukan karena diriku tidak normal. Namun, aku hanya takut bila rasa cintaku pada
seorang hamba melebihi cintaku pada Allah. Dan kini ketakutanku terbukti sudah.
“Astagfirullah,” ucapku beristighfar, memohon ampun kepada Allah.
Memang
beberapa terkahir ini, aku sering bertemu dengan Laura. Awalnya memang aku
menolak. Namun, saat pembahasan mengenai Nausha ia usik tanpa pikir panjang aku
pun menyetujuinya. Sekali, dua kali kami bertemu. Hingga lama-lama hal itu
menjadi rutinitas selama dua minggu ini, di setiap jam makan siangku. Mulanya rasa simpati, namun terganti
menjadi lebih. Belum lagi Kriss yang hilang tiba-tiba tanpa kabar.
Semakin aku mengenalnya, semakin akuu tahu bagaimana dirinya. Sifat ketus dan sarkas yang ia
tunjukkan di awal-awal petemuan kami, ternyata sebagai bentuk pertahanan
dirinya dari pada orang asing.
“Alvin!” Aku
menoleh, memberi senyum, kala sosok yang telah melahirkanku memanggil.
“Ada apa,
Bun?” Aku menyalimi tangan bundaku.
Di usapnya
kepalaku dengan lembut. “Kok masih di
luar? Lagi banyak pikiran ya?”
“Nggak ada kok, Bun. Ini
cuman lagi cari angin doang.”
Bunda
terkekeh pelan, lalu mengangguk berpura-pura memercayai
alibiku.
“Apa pun
masalah yang sedang menimpa kamu, serahkan semuanya pada Allah. Dan ingat,
tidak semua yang kita inginkan dapat sesuai seperti apa yang kita ingin. Semua
yang ada di alam semesta ini Allah lah yang
mengaturnya. Tentu, Dia pasti tau apa yang terbaik untuk makhluknya.”
Aku
tersenyum, memeluk Bunda tanda rasa bahagia akan sosok yang selalu jadi
panutanku ini. Karena tanpa perlu ku beritahu, Bunda selalu tahu apa yang aku butuhkan.
* * *
Nyatanya
dalam hidup ini, masalah kerap kali datang tidak hanya dalam satu aspek. Ada
kalanya menghampiri secara beruntun, terasa berat seakan tidak mampu di
tangani. Juga ada masanya segala sesuatu melebur dan bermuara pada titik jenuh.
Belum
persoalan mengenai rasa ini selesai, masalah baru kembali datang menghampiri.
Entah bagaimana berita kesalahpahaman itu tersebar, yang jelas aku harus segera
mengklarifikasi semuanya.
Tadi pagi,
saat diriku membuka handphone, berniat menanyakan jadwalku pagi ini pada sekretarisku. Sebuah berita miring
tersebar di salah satu akun media sosialku. Berbagai pertanyaan dan pernyataan tidak mengenakkan tersebar di kolom
komentar salah satu foto postinganku. Entah apa yang mereka dengar, tapi aku
yakin semua berita itu hanyalah sebuah kesalahpahaman saja.
Dengan
segera aku bergegas pergi menuju kantor. Tepat di sana, berbagai
bisikan-bisikan serta tatapan sinis menyambutku. Dan tanpa kuduga, aku
dipanggil oleh atasanku menuju ruangannya. Bisa kuprediksi jika masalah ini
bukanlah masalah kecil. Jika tidak, mana mungkin aku sampai dipanggil oleh sang
atasan menuju ke ruangannya untuk mengklarifikasi semuanya.
Dan benar
saja, berita miring yang tersebar mengenaiku nyatanya hanya sebuah
kesalahpahaman. Ternyata foto-foto kebersamaanku bersama Laura tersebar luas di
salah satu akun yang tidak dikenal. Di foto tersebut berisi komentar miring
yang mengatakan mengenai kami yang memiliki hubungan
gelap. Dan tentu saja, dengan segera aku menjelaskan hubungan kami di hadapan
para karyawan kantor.
Namun,
meskipun penjelasan telah kuberi, nyatanya tidak menyelesaikan persoalan itu
dengan begitu mudah. Hari-hari selanjutnya, berbagai foto dan komentar miring
terus tersebar. Mengubah persepsi mereka
mengenai diriku dengan begitu cepat. Aku merenung. Mencoba mengingat kesalahan
yang mungkin saja tidak sengaja aku perbuat
hingga melukai orang lain. Karena sepertinya orang tersebut tidak ingin
berhenti begitu saja merusak nama baikku
Awalnya
kucoba acuh dengan semua itu. Berpura-pura tuli dan buta akan lingkunagn
sekitarku. Tetapi, tanpa kusadari masalah ini semakin besar saja setiap
harinya. Bukan hanya nama baikku saja yang terkena dampaknya. Nama perusahaan
dan keluarga Kriss ikut terkena imbasnya pula.
“Tenang
saja, Alvin, kita semua percaya, kok. Gue yakin lo ngga akan ngelakuin hal
seperti apa yang mereka ngomongin.” Kriss memberi senyum padaku, mencoba
menguatkan diriku. Tadinya aku tidak ingin mengatakan padanya mengenai masalah ini. Namun, tanpa kusangka
kedatangan dia yang tiba-tiba ke kantorku, ternyata untuk membahas mengenai
masalah ini.
“Thank’s,
Kriss” ujarku tulus. “Lalu gimana sama hubungan lo?” Aku menatapnya serius,
mencoba bertanya mengenai keadaannya yang mungkin saja akan berdampak buruk
nantinya.
Kriss
mengangkat kedua bahunya tak acuh. “Kami
akan bercerai.”
Aku melotot
kaget mendengarnya. Tidak menyangka dampak yang timbul akan seburuk ini
terhadap mereka.
“Jangan
memasang muka seperti itu. Lagian juga
bukan salah lo, Vin. Bukannya lo tau kalo gue emang mau mengakhiri hubungan ini
sejak lama, bukan?”
Aku
mengangguk lesu. “Tapi gue masih nggak nyangka kalo situasinya akan serumit ini.”
“Tidak ada
yang bisa memprediksi masa depan, bukan?”
* * *
Segelas kopi
di tengah cuaca mendung di sore hari, memang paling nikmat menamani waktu
bersantai menunggu senja. Dua bulan telah berlalu dengan begitu cepat. Semenjak
kehadiran Kriss ke kantorku saat itu, aku memutuskan untuk resign dari
tempat kerjaku. Seperti yang Bunda katakan, sepertinya aku memang membutuhkan waktu sejenak untuk beristirahat
dari segala agenda kerja dan masalah yang menimpaku beberapa terakhir ini.
Selain itu, semenjak kepulanganku ke kediaman utama keluargaku, masalah terror
itu berhenti seketika. Mungkin, tujuan utama si pelaku memanglah untuk
menjatuhkan diriku.
Lagi-lagi aku menoleh kaget saat pintu kamarku terbuka
dengan keras. Sesosok wanita yang mampu memorak-porandakan hidupku terlihat
berdiri di ambang pintu. Aku menatapnya terheran-heran. Dari mana dia mengetahui keberadaanku di sini? Karena kepergianku kali ini memang tidak ada yang
mengetahuinya, kecuali Nausha. Lalu, apakah mungkin Nausha yang memberitahunya?
Sebab, di antara banyak orang, hanya Nausha yang kuberitau.
“Aku
mengetahuinya dari Nausha jika itu yang ingin kamu tanyakan.” Laura melangkah mendekat ke arah Alvin.
“Aku ke mari bersama dengan Kriss serta Metta. Jika
kamu membutuhkan penjelasan, ikutlah denganku.
Aku akan menjelaskannya di bawah. Bukankah tidak baik jika kita berduaan
seperti ini di sini?” Laura berbalik, melangkah terlebih dahulu tanpa menunggu
jawaban dariku.
Di ruang tamu keluarga, aku melihat keberadaan Kriss,
Laura, dan juga Metta di sana.
Mereka terlihat duduk beriringan di sofa panjang berwarna cokelat.
“Sejak kapan rumah lo jadi sepi kayak kuburan gini?”
candaan Kriss menyambutku kala kaki ini menginjak lantai ruang tamu.
Aku terkekeh kecil. “Lagi pada pergi,” jawabku
seadanya. “Ada apa ke sini?”
“Pertanyaan lo sungguh
sangat menyakitkan, Kawan.” Kriss
memegang dadanya, bertingkah dramatis. “Kita ini sudah mengenal sejak lama, Kawan.
Bukannya gue selalu berbagi cerita ke lo. Bahkan mengenai persoalan rumah
tangga gue. Apa sebegitu nggak
percayanya lo ke gue, sampai masalah sebesar ini lo nggak cerita?”
Kriss memandangku kesal. “Terus ini maksudnya apa? Kabur? Udah kayak gadis
perawan lagi patah hati aja lo.”
Aku mendengkus sebal
mendengar pernyataan dirinya mengenai diriku. Apa? Gadis perawan yang sedang
patah hati? Tidak ada kata yang lebih baik dari itu?
“Siapa juga yang kabur? Gue cuman lagi nenangin diri
doang.” Aku meneguk segelas jus yang
tadi telah disiapkan. “Ada kabar baru apa selama dua bulan ini?”
Kriss tersenyum sumringah. “Sepertinya aura bahagia
gue terlalu jelas terpancar, ya?” Kriss terlihat mengambil tangan kanan Metta,
menggenggamnya dengan erat. “Kita udah nikah dua minggu yang lalu.”
“Seperti biasa. Lo selalu penuh kejutan.”
Kriss terlihat mengambil sesuatu dari dalam tas Metta,
lalu melemparnya begitu saja ke hadapanku. “Dua minggu lagi. Ulang tahun
perusahaan gue. Wajib datang khusus buat lo. Sekalian temuin anak gue.”
Aku memandang undangan berwarna cokelat muda di
tanganku, lalu mengangguk singkat menjawab
permintaan Kriss. “Ya, kalau sempat.”
Kriss berdeham lalu berdiri
bangkit dari kursinya. “Kayaknya ada yang perlu kalian bicarakan. Aku dan Metta
akan menunggu kalian di belakang.” Kriss memandang ke arah kami bergantian,
lalu melangkah pergi tanpa sempat menunggu persetujuanku.
Suasana menjadi hening seketika. Selama beberapa detik
kami hanya saling diam dengan pikiran kita masing-masing.
“Maaf karena tadi aku bersikap
lancang.” Laura memulai pembicaraan. Kepalanya tertunduk memandang lantai putih
ruang tamu.
Aku hanya mengangguk, menunggu dia kembali berbicara.
“Kami telah bercerai. Dan hak asuh Nausha jatuh pada
diriku.” Laura menjeda ucapannya,
menarik napas sejenak. “Selama dua bulan ini
kehidupanku tidaklah mudah, Alvin. Bukan karena rumah tanggaku yang hancur.
Tapi lebih rasa khawatirku padamu.”
“Ke mana saja
kamu dua bulan ini? Aku berkeliling,
berusaha mencari keberadaanmu.
Dan tanpa kuduga, ternyata Nausha menceritakan
sendiri tanpa aku minta.” Laura menghela napas,
menghapus jejak air mata yang turun tiba-tiba. “Kamu tau,
Alvin? Aku telah jatuh cinta padamu”
Tubuhku seketika kaku mendengar pernyataan cinta yang
keluar dengan begitu mudah darinya. Mulutku kelu tidak mampu menjawab.
“Aku pernah mendengar sebuah kisah yang berasal dari
agamamu, bahwa zaman dahulu pernah seorang wanita yang
melamar seorang pria, bukan?” Laura memejamkan matanya sesaat. “Lalu, Alvin,
kini izinkan aku seperti wanita itu. Alvin, maukah kamu
menikahiku? Aku siap bila harus berpindah agama!”
Tubuhku semakin kaku mendengar pernyataan kedua
darinya. Belum rasa terkejut yang pertama terobati, kini dia kembali
melontarkan perkataan yang tidak pernah kuduga akan terjadi.
“Kamu berhak
mencintaiku, Laura. Tapi bukankah cinta tidak harus memiliki? Tolong, jangan
gadaikan begitu saja sebuah keyakinan hanya demi cinta. Jika memang kamu ingin
berpindah agama menuju agamaku, maka lakukanlah tanpa karena diriku.
“Tidak perlu saling mengalah,
kitanya saja yang memang tidak ditakdirkan di
garis yang sama. Kamu tidak perlu meninggalkan Tuhan-mu untukku. Dan aku tidak
akan pernah meninggalkan Allah-ku karenamu. Sang pencipta tidak mungkin digadai
oleh rasa yang bernama cinta. Dia juga tidak mungkin salah menuliskan takdir-Nya.
Kita saja yang tidak sama.” Aku menghela napas
sejenak. “Aku … tetap akan mendoakanmu di
sepertiga malamku. Dan kamu tetaplah teguh di tiap minggumu.”
“Tapi, Alvin …,” sela
Laura
“Lusa aku akan pergi jauh. Berniat memperbaiki diri.
Aku doakan semoga dirimu cepat menemukan hidayahmu.”
* * *
Dua tahun kemudian.
Sesuai niatku sebelumnya, aku pergi berhijrah menuju
Makkah untuk memperbaiki diri sekaligus untuk
kembali menuntut ilmu. Aku menatap lekat-lekat ka’bah dari
kejauhan. Rasa damai dan tenang memenuhi relung jiwa.
“Fabiayyialaa irobbikuma
tukadziban.”
Sayup-sayup aku mendengar suara lantunan indah ayat
suci al-qur’an.
Seperti tidak asing.
Batinku berujar. Aku termenung. Tiba-tiba seorang
wanita bercadar lewat di sampingku.
Lalu ia menoleh ke arahku. Seketika mataku
membulat sempurna, jantungku memompa darah lebih cepat dan pikiranku buyar ke mana-mana.
“Akankah itu?”
-TAMAT-
0 Komentar