Cerpen - GARIS ILAHI


Salsabila Rahmah Nurshabrina


Oleh Salsabila Rahmah Nurshabrina pada tanggal 12  Oktober 2021, 11.10 WIB

Aku Alvin Rahendra, seorang lelaki muslim di kota metropolitan tempatku tinggal ini. Tentu saja memang tidak mudah. Begitu banyak godaan dan cobaan yang menghampiri. Namun, aku yakin Allah SWT akan selalu ada untuk membantuku.

Bro, makan siang bareng, yuk!” Sebuah teriakan terdengar dari arah pintu. Tanpa perlu ditebak, aku sudah dapat mengenali suaranya. Hanya ada satu orang yang berani berteriak seperti itu di ruanganku, itu Kriss—sahabatku.

Kriss Anderson nama lengkapnya. Dia itu sahabatku semasa kuliah dulu. Kejadian tidak terduga mengantarkan kami bertemu hingga menjadi sahabat sampai saat ini. Kepribadiannya yang ramah dan asyik membuatku nyaman berteman dengannya. Namun, kami sedikit berbeda. Kriss yang memakai salib di lehernya tidak selaras dengan tasbih di tanganku. Meski begitu, rasa toleransi dalam diri kita masing-masing sangatlah kuat.

Aku tetap terdiam tidak menghiraukannya. Fokus serta arah pandangku tidak berubah sedikit pun dari layar laptop dan papan keyboard. Sebab tugas laporan akhir bulan yang menumpuk harus segera aku selesaikan.

Bunyi laptop yang tertutup cukup keras mampu mengalihkan atensiku pada Kriss. Kutatap dirinya penuh tanda tanya. “Kenapa?”

“Lihat jam dulu makanya!” ujarnya memberi perintah.

“Astaghfirullah.” Aku terkejut kala mendapati jam tanganku menujukkan pukul dua siang. Sekitar satu jam setengah lagi waktu zuhur akan habis. Untungnya Kriss datang menghampiriku. Bila tidak, mungkin saja aku akan meninggalkan waktu zuhur karena kelalaianku. Inilah yang aku suka dari dirinya. Bila kesibukan menyita waktuku, dengan senang hati Kriss akan menegur diriku. Walaupun sejujurnya aku cukup kesal karena dia baru saja menutup laptop milikku dengan kasar.

Aku pun segera mengambil wudu dan melaksanakan salat zuhur di sebuah kamar khusus yang tersedia di dalam ruangan ini. Selepas menyelesaikannya, aku kembali duduk di ruangan Kriss berada.

“Mau delivery atau makan di kantin?” tawarku padanya.

Delivery aja yang gampang. Bayarin sekalian ya biar rezekinya berkah.”

Aku mengangguk lalu tersenyum kala Kriss menambahkan doa di akhir kalimatnya.

Lima menit berlalu, pesanan yang kami pesan pun tiba. Dengan membaca doa di awal, aku memakan makananku dengan tenang. Rasanya bersyukur kala diri ini masih mampu menikmati hidangan lezat dan halal ini.

“Vin!” panggil Kriss disela kunyahannya.

“Hm?” tanggapku bergumam.

“Kalau gue cerai sama Laura gimana?”

Seketika aku tersedak mendengar pertanyaan yang ia ucapkan. Cerai?

* * *

Iya, Bun, hari ini Insya Allah Alvin pulang ke rumah.”

Iya, Bun, Alvin ingat kok. Nanti sehabis salat magrib Alvin pulang.

“Masih di mall, Bun. Iya, nanti Alvin belikan kue kesukaan bunda, ya?

“Ya, Bun, waalaikum—“

“AW!”

Aku menunduk saat menyadari menabrak sesuatu. Meringis melihat sesosok gadis kecil terjatuh menatap nanar es krim di genggamannya.

“Bun, Alvin pamit. Assalamualaikum.

Aku berjongkok selepas menutup panggilan telepon tanpa menunggu jawaban dari seberang. Aku samai tubuhku dengan sosok gadis kecil bermata biru yang kutabrak tadi. Aku membantunya berdiri, lalu aku ajak dirinya duduk di bangku panjang di depan sebuah kedai kopi.

Hi, are you okay?” tanyaku berbahasa Inggris. Tentu bukan tanpa sebab aku mengajaknya berbicara bahasa asing. Sebab  dilihat dari rambut cokelat, mata biru, dan kulit putih yang dimilikinya, sepertinya ia merupakan turis asing yang sedang berkunjung.

Gadis kecil itu mengangguk tanpa banyak bicara. Ia terlihat menunduk seraya memainkan ujung bajunya. Mungkin ia merasa sedih karena kehilangan es krimnya, pikirku dalam hati.

Hi, waiting here, okay?” Gadis kecil itu kembali mengangguk. Dengan sedikit berlari, aku pergi menuju sebuah kedai es krim yang tidak jauh di sana. Dengan segera, aku pesankan es krim cone rasa stroberi. Persis seperti punyanya yang jatuh akibat aku tabrak.

This is for you!” Kuserahkan es krim itu di hadapannya. Namun, gadis kecil itu masih terlihat enggan mengangkat kepalanya. Perlahan, kudengar suara isakan kecil dari bibir mungilnya. Tanpa ragu aku bawa ia kedalam pelukanku, bermaksud menenangkan.

Setelah tenang, aku memberikan ia segelas air putih yang kubeli dari kedai kopi tadi. Lalu aku serahkan kembali es krim yang sudah hampir meleleh itu. “Hmm… whats your name?”

“Nausha,” jawabnya lirih.

Don’t be afraid. I’m a good person.” Perlahan ku genggam tangan kecilnya, memberi ketenangan. “Don’t worry, you’re safe with me. So, where are your parents?”

“Mami ....”

“NAUSHA!”

Belum sempat gadis kecil itu melanjutkan ucapannya, sebuah teriakan mengalihkan perhatian kami.

Seorang wanita dengan wajah paniknya terlihat menghampiri gadis kecil itu. Bisa kutebak bila wanita itu merupakan ibu dari gadis kecil ini karena dilihat dari fisiknya beliau tampak serupa dengan gadis kecil itu. Tanpa kuduga, wanita itu menarik dengan kasar tangan mungil milik Nausha. Memaksanya mengikuti ke mana wanita itu melangkah.

Sorry Miss your child so look difficult to walk,” tegurku sopan. Rasanya sungguh tidak tega melihat gadis kecil itu berjalan dengan terseok-seok.

“Ada hak apa Anda berbicara seperti itu?” ujarnya ketus kala tubuhku menghalangi langkahnya.

Aku tertegun mendengarnya. Bukan karena nada bicaranya yang ketus, namun lebih kepada logatnya yang terlihat lancar berbicara Bahasa Indonesia. Sepertinya ia sudah cukup lama tinggal di negara ini.

Aku sedikit berdeham, menetralkan rasa terkejutku. “Saya memang tidak mempunyai hak apa-apa disini. Tapi apakah baik bila seorang ibu memperlakukan anaknya sendiri seperti tadi?”

Wanita itu berdecih, “Tidak perlu ikut campur urusan saya.” Dia melirikku sinis. “Urus saja urusan Anda sendiri!

Aku mengelus dada. Melafalkan istighfar berkali-kali dalam hati. Mencoba bersabar menghadapi wanita di hadapanku ini.

“Laura! Nausha!”

Alih-alih membalas ucapannya, aku memilih menoleh saat sebuah suara yang tidak begitu asing aku dengar. Dan benar saja, seorang lelaki yang tidak lain adalah sahabatku, Kriss terlihat menghampiri kami. Ia tengah melangkah bersama dengan seorang wanita berpakaian minim. Berbagai tas belanjaan tampak bertengger di tangan kirinya.

“Ngapain ngajak Nausha ke sini?” tanyanya pada wanita di hadapanku ini.

“Terpaksa. Disuruh mama.

Aku mengernyit heran melihat interaksi mereka yang terlihat begitu akrab. “Kalian saling kenal?”

Kriss mengangguk santai. “Dia Laura istri sah gue. Dan itu Nausha anaknya.

“Heh, dia anak lo juga kali!” ujar Laura mendelik tidak terima.

“Terus tuh cewek siapa?” tunjukku dengan dengan dagu pada wanita di sampingnya.

“Ini?” Kriss tersenyum, merangkul mesra wanita di sampingnya. “Kenalin dia Calandra Ametta Mabella, cewek gue,” ujarnya bangga.

Aku tidak terkejut lagi ketika mendengar status wanita di samping Kriss. Persahabatan yang terjalin di antara kami membuat ia terlihat begitu terbuka. Terlepas dari keyakinan, segala permasalahannya termasuk kehidupan rumah tangganya yang tidak baik, ia ceritakan padaku. Aku memang sudah mendengar nama kedua perempuan di hadapanku ini. Namun, aku tidak pernah sekali pun melihat rupa mereka. Jadi, wajar saja bila aku tidak mengenal mereka.

Memang istri sahnya saat ini bukanlah perempuan yang ia cintai. Namun, gadis di sampingnya lah sosok yang ia cintai itu. Sebuah tragedi yang tidak diinginkannya yang membuat dia menikahi istrinya itu. Dan berakhir menjalin hubungan backstreet dengan kekasihnya itu. Inilah yang membuatnya selalu menginginkan bercerai dari istrinya terlepas dari rasa kasihan pada putrinya.

Wanita di samping Kriss terlihat mendekat. “Metta,” ujarnya menyodorkan tangannya bermaksud berkenalan.

Aku menangkupkan kedua tanganku, memberinya pengertian. Karena di dalam agama islam, seorang lelaki dan perempuan yang bukan mahram dilarang bersentuhan dan berduaan. “Alvin,” ucapku memperkenalkan diri.

Kriss mendekat, menyadari keheranan Metta yang tidak kubalas jabatan tangannya. “Dia seorang muslim,” ujarnya menjelaskan. Kini wanita itu mengangguk mengerti. “Vin, gue pamit duluan ya. Kasihan cewek gue kecapekan.” Kriss menoleh ke arah istri sahnya itu. “Pulang gih! Kasihan anak lo kecapekan gitu. Bilang sama mama gue pulang malam.”

“Dia. Anak. Lo. Juga. Kriss.” Laura berucap penuh penekanan.

Kriss mengedikkan kedua bahunya tak acuh. “Bro, gue pamit!” ujarnya berlalu meninggalkan kami.

Selepas kepergian mereka berdua, aku kembali mengalihkan perhatianku pada gadis kecil itu. Ia terlihat menunduk dalam diam sejak tadi. Aku meringis dalam hati, menyadari mungkin saja kehadirannya tidak diinginkan kedua orang tuanya. Namun, gadis kecil itu bisa apa? Ia hanya bisa pasrah menerima takdir tanpa mampu menolak, bukan?

“Ayo Nausha ikut Mami pulang!

“Tunggu, apa Anda bawa kendaraan?”

“Kenapa memangnya?”

“Jika tidak, bagaimana bila ikut dengan saya?” tawarku. Kulihat matanya yang memicing menatapku curiga. “Jangan salah paham. Saya hanya merasa tidak tega melihat putri Anda. Dia terlihat sangat kelelahan.”

Dia diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan berjalan lebih dulu menuju area parkir.

“Tunggu!”

“Apa lagi sekarang? Nggak tau apa saya udah capek banget?!” sahutnya kesal.

Aku meringis mendengar nada yang bertambah ketus itu. Aku menghela napas perlahan. “Saya hanya ingin menggendong putri Anda, apakah boleh?” ujarku meminta izin, bagaimanapun ia putrinya, bukan?

Silakan kalau dia mau.

Aku mengangguk, berjalan menghampiri Nausha. Setelah mendapat persetujuan dari Laura meski terkesan tersirat. Kuusap rambutnya perlahan sebelum kugendong tubuh mungil itu. Dengan nyaman Nausha membenamkan wajahnya ke ceruk leherku.

“Kok dia mau?” tanya Laura dengan wajah terkejut.

“Ayo!” ajakku mengabaikan pertanyaannya.

* * *

BACA JUGA : Cerpen - Don't Go

Terhitung satu bulan sudah semenjak kejadian di mall kemarin. Sejak saat itu aku jadi lebih sering berkunjung ke kediaman Kriss. Jika biasanya aku sulit diajak ke sana, tapi kini dengan insiatif sendiri aku kemari demi menemui putrinya, Nausha

Sejak awal bertemu aku memang sudah tertarik dengan Nausha. Selain karena parasnya yang cantik dan imut, kepribadiannya yang tertutup dan murung membuatku ingin mengenalnya lebih dekat. Sangat disayangkan bukan, bila di usianya yang masih belia ini, dia sudah menjadi sosok yang acuh terhadap sekitarnya.

“Selamat sore. Nausha, Om datang!”

“Om Vin!” Sebuah teriakan terdengar dari arah dapur. Dengan langkah kecilnya Nausha datang menghampiriku.

Kutangkap tubuh kecil itu, lalu aku ayunkan tubuhnya mengelilingi lantai ruang tamu. Suara tawanya memenuhi seisi ruangan ini. Kini ia terlihat tampak begitu ceria dengan senyum lebarnya itu. Aku pun ikut tersenyum senang karena usahaku mengembalikan senyum itu berhasil.

Tentu saja tidak mudah usahaku untuk mendekatinya. Dibutuhkan usaha ekstra agar membuatnya tidak takut menemui orang asing sepertiku. Karena dipertemuan kedua kami ia terlihat bersembunyi ketakutan di balik kaki pengasuhnya. Nyatanya, meskipun kita pernah bertemu sebelumnya, namun tetap membuat dia mewaspadaiku seperti orang asing. Rasanya sedih bila melihatnya, meskipun aku tahu hal itu wajar saat melihat pertemuan kami yang begitu tidak terduga dan singkat.

Gagal sekali bukan berarti membuatku menyerah begitu saja. Di pertemuan berikutnya, aku kembali datang dengan membawa beberapa mainan  yang aku tau banyak digemari anak-anak seusia Nausha. Namun naas, lagi-lagi usahaku gagal. Bahkan kali ini parahnya, ia sampai berlari ketakutan ketika melihatku, aku merasa seperti sosok monster mengerikan di film kartun Monster Inc.

Lagi, aku kembali menemuinya dan membawa beberapa bingkisan yang berbeda setiap dua hari  sekali. Aku tidak menyerah begitu saja karena aku sangat yakin bila sebuah usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dan terbukti kemarin, saat aku sedang membacakannya sebuah cerita, dengan sendirinya ia memintaku kemari untuk menemuinya esok hari. Dan dengan senang hati, hari ini aku kembali datang demi menepati janjiku.

“Lihat hari ini Om bawakan es krim kesukaan Nauha.” Kusodorkan sebuah cup ice cream rasa stoberi favoritnya. Berbeda saat kemarin di mall, kini dengan senang hati ia menerimanya.

Dengan semangat gadis kecil itu mengangguk. Tangannya begitu lihai menyendokkan suapan demi suapan ke mulutnya. Mulutnya bersenandung kecil menikmati tiap lelehan es krimnya. Kakinya mengayun indah tanda rasa bahagia.

Sebuah tepukan kecil di pundakku mengalihkan arah pandangku. Melihat sosok tegap seorang ayah dari gadis kecil penerima es krimkku tadi.

“Udah cocok lo buat ngasuh anak,” ucap Kriss menatapku serius. Kuangkat sebelas alisku menunggu lanjutan ucapannya. Sudah dapat diprediksi ke mana ujung pembicaraan ini.

“Besok daftar ya buat nemenin si Onah,” lanjutnya menyebut nama pengasuh dari putrinya.

Aku mendengkus sebal sementara Kriss tertawa lepas melihat wajah masamku. Benar bukan prediksiku bila ujung-ujungnya pembicaraan Kriss menyeleneh entah ke mana. Sifatnya yang menyebalkan dan humor terkadang membuatku secara bersamaan bingung harus bersyukur atau tidak dapat berteman dengannya.

“Mau ke mana?” tanyaku pada Kriss. Dilihat dari penampilannya yang tampak kasual, aku yakin bila kantor bukanlah tujuannya.

“Biasalah,” ujarnya santai. Aku hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan. Bila jawaban nya sudah seperti itu sudah dapat ku pastikan kemana ia akan pergi. Tentu saja untuk menemui sang kekasih tercintanya.

* * *

Selepas menghabiskan es krimnya, Nausha mengajakku ke taman komplek perumahannya seperti biasa. Setelah mendapat izin dari Kriss, aku mengajak Nausha beserta Laura mengunjungi taman itu. Menikmati angin sore yang segar sekaligus melatih Nausha untuk berinteraksi dengan sekitar. Bersama Laura, aku duduk mengawasi Nausha dari kejauhan. Sejak kemarin pula, aku sedikit berdiskusi mengenai kondisi Nausha dengan Laura. Setidaknya dari situ aku tahu bahwa seorang ibu tetap tidak akan pernah tega menelantarkan anaknya.

Netra hitamku tidak berhenti bergerak memandangi tubuh mungil Nausha. Ia terlihat begitu lincah mengejar seekor kupu-kupu bersama seorang anak perempuan seusianya. Tawanya begitu lepas tanpa takut akan rasa lelah. Ya, begitu anak kecil. Hanya hal sederhana saja mampu mebuat mereka tertawa bahagia.

Hiruk pikuk di sekitar taman nyatanya tidak membuat kecanggungan antara aku dan Laura dapat lepas begitu saja. Pembahasan mengenai Nausha telah berakhir sudah. Rasanya sungguh sangat gugup. Belum lagi melihat Laura yang duduk satu kursi denganku.

“Terima kasih,” ujar Laura memecah keheningan.

Aku menoleh sekilas. “Untuk apa?”

“Semuanya.

Aku mengangguk singkat, lalu tersenyum tipis. “Terima kasih juga.

“Untuk apa?”

“Untuk usaha dan perhatianmu kepada Nausha.

“Bukankah aku seorang ibu yang buruk?” tanyanya sendu.

Dapat kulihat wajah penyesalan di sana.

“Kamu benar. Di sini bukan Nausha yang salah, melainkan aku dan Kriss. Tidak seharusnya ia kujadikan pelampiasan rasa kecewaku.”

“Yang lalu biarkanlah berlalu. Yang terpenting kamu sudah mau memperbaikinya,” ujarku menghibur.

Laura tersenyum, lalu membuka sebuah kotak makan berukuran sedang. “Ambil lah! Tadi aku dan Nausha yang membuatnya. Nausha pasti akan sangat senang bila kamu memakan kue buatannya,” tawarnya padaku. Aku pun mengambil satu potong kue cokelat itu untuk menghargainya.

Suasana kembali hening. Kebisuan pun kembali melanda kami. Hingga suara decitan kursi membuatku menoleh ke kanan, tempat di mana Laura duduk. Wanita yang berstatus ibu muda itu terlihat berdiri dari kursinya, bersiap pergi entah ke mana. Namun, baru lima langkah ia berjalan tubuhnya terhuyung ke belakang ketika kakinya tanpa sengaja menginjak sebuah batu berukuran sedang. Refleks, tubuhku berdiri. Berusaha menahan tubuhnya yang hendak menghantam kerasnya tanah. Seperti kisah cinta klise pada umumnya, aku yang berdiri di sisi kanannya seraya menahan tubuhnya dengan kedua tanganku. Mata kami sempat beradu pandang selama beberapa detik sebelum pada akhirnya ia jatuh terduduk akibat aku yang melepaskan tanganku pada pinggangnya.

“AW!” aduhnya menjerit kesakitan. Dengan wajah menahan amarah, Laura bangkit dari posisinya seraya membersihkan belakang celananya yang kotor akibat tanah.

Setelah berdiri sempurna, tanpa kuduga Laura dengan sengaja menginjak kaki kananku. Sepatu heels setinggi lima sentimeter yang ia gunakan mampu membuatku menjerit kesakitan. Aku melotot padanya. Bertanya-tanya sebab ia menginjakku.

“Kenapa!? Sakit, ya?” tanyanya dengan nada bersirat mengejek. Ia maju selangkah, memperkikis jarak di antara kami. “Bagaimana dengan gue yang lo jatuhin gitu aja setelah di tolong? Kalau ending-nya kayak gitu mending dari awal lo ngga usah pura-pura baik tolongin gue.”

“Maaf, saya ngga bermaksud,” ujarku merasa bersalah.

Laura berdecih, menatapku sinis. “Apa segitu jijiknya lo sama gue sampai nggak mau nyentuh gue?” tanyanya sarkas. “Berasa jadi kuman aja deh.

Aku menghiraukan pertanyaanya, memilih kembali duduk seraya kembali memperhatikan Nausha yang masih tampak asyik bermain tanpa menghiraukan keributan yang kami buat. Lalu, Laura pun menyusul mengikuti langkahku kembali duduk.

Aku mengambil dua bungkus permen dari saku kemejaku. Kubuka bungkus salah satunya, lalu kusodorkan kedua tanganku di hadapan Laura.

“Ngapain?” tanya nya heran.

“Mana yang akan kamu pilih?” tanyaku. “Yang ini?” Aku mengangkat tangan kananku, sebungkus permen utuh terlihat di sana. “Atau yang ini?” Ku angkat kembali tangan kiriku, daguku menunjuk ke  arah permen yang telah kubuka bungkusnya.

“Jelas ini lah!” ujarnya mengambil sebungkus permen di tangan kiriku. “Kan lumayan udah di bukain,” lanjutnya terkekeh.

“Apa saat membeli sesuatu kamu lebih memilih yang terbuka dibandingkan dengan yang terbungkus rapih?’

Laura menggeleng tegas. “Kalau itu beda konsep lagi, dong. Memangnya kenapa?”

“Begitu pula dengan Islam, menjaga dan menjunjung tinggi seorang wanita. Mana mau kan kita makan permen yang sudah di kepung serangga? Atau makan bubur yang sudah tercampur debu. Dengan sebaik-baik tata cara Islam tunjukkan untuk menjaga perempuan.”

“Tapi ,” sela Laura.

“Nah, tapi memang sebagian wanita malah menjatuhkan dirinya sendiri. Sudah terbungkus rapih tapi mempermalukan diri.”

“Berarti ,” sela Laura lagi.

“Bukan salah Islamnya. Tapi itu pilihan setiap individunya, Lau. Islam sudah menunjukkan jalannya, tapi bila jalan lain yang mereka pilih, ya ... itu pilihan mereka”

“Gitu ya. Sepertinya rumit,” ujar Laura.

“Bukan rumit tapi indah, sahutku menerawang.

Seperti kita. Laura membatin.

* * *

Malam telah tiba. Dengan ditemani para bintang dan rembulan, aku merenung menatap langit dari arah balkon kamarku. Sesuatu rasa yang salah tiba-tiba datang mengusik hatiku. Kala kedekatan dan kenyaman terus mendekat. Sebisa mungkin aku menolak. Namun, semaikin kutepis, semakin kuat pula rasa itu hadir. Aku tidak pernah memintanya. Tetapi rasa itu datang dan memorak-porandakan semuanya.

Selain karena syariat, inilah salah satu penyebabku membentang jarak untuk para perempuan. Serta membangun tembok tinggi untuk rasa cinta yang berlebih kepada yang bukan mahram. Bukan. Bukan karena diriku tidak normal. Namun, aku hanya takut bila rasa cintaku pada seorang hamba melebihi cintaku pada Allah. Dan kini ketakutanku terbukti sudah.

“Astagfirullah,” ucapku beristighfar, memohon ampun kepada Allah.

Memang beberapa terkahir ini, aku sering bertemu dengan Laura. Awalnya memang aku menolak. Namun, saat pembahasan mengenai Nausha ia usik tanpa pikir panjang aku pun menyetujuinya. Sekali, dua kali kami bertemu. Hingga lama-lama hal itu menjadi rutinitas selama dua minggu ini, di setiap jam makan siangku. Mulanya rasa simpati, namun terganti menjadi lebih. Belum lagi Kriss yang hilang tiba-tiba tanpa kabar.

Semakin aku mengenalnya, semakin akuu tahu bagaimana dirinya. Sifat ketus dan sarkas yang ia tunjukkan di awal-awal petemuan kami, ternyata sebagai bentuk pertahanan dirinya dari pada orang asing.

“Alvin!” Aku menoleh, memberi senyum, kala sosok yang telah melahirkanku memanggil.

“Ada apa, Bun?” Aku menyalimi tangan bundaku.

Di usapnya kepalaku dengan lembut. “Kok masih di luar? Lagi banyak pikiran ya?”

“Nggak ada kok, Bun. Ini cuman lagi cari angin doang.”

Bunda terkekeh pelan, lalu mengangguk berpura-pura memercayai alibiku.

“Apa pun masalah yang sedang menimpa kamu, serahkan semuanya pada Allah. Dan ingat, tidak semua yang kita inginkan dapat sesuai seperti apa yang kita ingin. Semua yang ada di alam semesta ini Allah lah yang mengaturnya. Tentu, Dia pasti tau apa yang terbaik untuk makhluknya.”

Aku tersenyum, memeluk Bunda tanda rasa bahagia akan sosok yang selalu jadi panutanku ini. Karena tanpa perlu ku beritahu, Bunda selalu tahu apa yang aku butuhkan.

* * *

Nyatanya dalam hidup ini, masalah kerap kali datang tidak hanya dalam satu aspek. Ada kalanya menghampiri secara beruntun, terasa berat seakan tidak mampu di tangani. Juga ada masanya segala sesuatu melebur dan bermuara pada titik jenuh.

Belum persoalan mengenai rasa ini selesai, masalah baru kembali datang menghampiri. Entah bagaimana berita kesalahpahaman itu tersebar, yang jelas aku harus segera mengklarifikasi semuanya.

Tadi pagi, saat diriku membuka handphone, berniat menanyakan jadwalku pagi ini pada sekretarisku. Sebuah berita miring tersebar di salah satu akun media sosialku. Berbagai pertanyaan dan pernyataan tidak mengenakkan tersebar di kolom komentar salah satu foto postinganku. Entah apa yang mereka dengar, tapi aku yakin semua berita itu hanyalah sebuah kesalahpahaman saja.

Dengan segera aku bergegas pergi menuju kantor. Tepat di sana, berbagai bisikan-bisikan serta tatapan sinis menyambutku. Dan tanpa kuduga, aku dipanggil oleh atasanku menuju ruangannya. Bisa kuprediksi jika masalah ini bukanlah masalah kecil. Jika tidak, mana mungkin aku sampai dipanggil oleh sang atasan menuju ke ruangannya untuk mengklarifikasi semuanya.

Dan benar saja, berita miring yang tersebar mengenaiku nyatanya hanya sebuah kesalahpahaman. Ternyata foto-foto kebersamaanku bersama Laura tersebar luas di salah satu akun yang tidak dikenal. Di foto tersebut berisi komentar miring yang mengatakan mengenai kami yang memiliki hubungan gelap. Dan tentu saja, dengan segera aku menjelaskan hubungan kami di hadapan para karyawan kantor.

Namun, meskipun penjelasan telah kuberi, nyatanya tidak menyelesaikan persoalan itu dengan begitu mudah. Hari-hari selanjutnya, berbagai foto dan komentar miring terus tersebar. Mengubah persepsi mereka mengenai diriku dengan begitu cepat. Aku merenung. Mencoba mengingat kesalahan yang mungkin saja tidak sengaja aku perbuat hingga melukai orang lain. Karena sepertinya orang tersebut tidak ingin berhenti begitu saja merusak nama baikku

Awalnya kucoba acuh dengan semua itu. Berpura-pura tuli dan buta akan lingkunagn sekitarku. Tetapi, tanpa kusadari masalah ini semakin besar saja setiap harinya. Bukan hanya nama baikku saja yang terkena dampaknya. Nama perusahaan dan keluarga Kriss ikut terkena imbasnya pula.

“Tenang saja, Alvin, kita semua percaya, kok. Gue yakin lo ngga akan ngelakuin hal seperti apa yang mereka ngomongin.” Kriss memberi senyum padaku, mencoba menguatkan diriku. Tadinya aku tidak ingin mengatakan padanya mengenai masalah ini. Namun, tanpa kusangka kedatangan dia yang tiba-tiba ke kantorku, ternyata untuk membahas mengenai masalah ini.

Thank’s, Kriss” ujarku tulus. “Lalu gimana sama hubungan lo?” Aku menatapnya serius, mencoba bertanya mengenai keadaannya yang mungkin saja akan berdampak buruk nantinya.

Kriss mengangkat kedua bahunya tak acuh. “Kami akan bercerai.

Aku melotot kaget mendengarnya. Tidak menyangka dampak yang timbul akan seburuk ini terhadap mereka.

“Jangan memasang muka seperti itu. Lagian juga bukan salah lo, Vin. Bukannya lo tau kalo gue emang mau mengakhiri hubungan ini sejak lama, bukan?”

Aku mengangguk lesu. “Tapi gue masih nggak nyangka kalo situasinya akan serumit ini.”

“Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan, bukan?”

* * *

Segelas kopi di tengah cuaca mendung di sore hari, memang paling nikmat menamani waktu bersantai menunggu senja. Dua bulan telah berlalu dengan begitu cepat. Semenjak kehadiran Kriss ke kantorku saat itu, aku memutuskan untuk resign dari tempat kerjaku. Seperti yang Bunda katakan, sepertinya aku memang membutuhkan waktu sejenak untuk beristirahat dari segala agenda kerja dan masalah yang menimpaku beberapa terakhir ini. Selain itu, semenjak kepulanganku ke kediaman utama keluargaku, masalah terror itu berhenti seketika. Mungkin, tujuan utama si pelaku memanglah untuk menjatuhkan diriku.

Lagi-lagi aku menoleh kaget saat pintu kamarku terbuka dengan keras. Sesosok wanita yang mampu memorak-porandakan hidupku terlihat berdiri di ambang pintu. Aku menatapnya terheran-heran. Dari mana dia mengetahui keberadaanku di sini? Karena kepergianku kali ini memang tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Nausha. Lalu, apakah mungkin Nausha yang memberitahunya? Sebab, di antara banyak orang, hanya Nausha yang kuberitau.

“Aku mengetahuinya dari Nausha jika itu yang ingin kamu tanyakan.” Laura melangkah mendekat ke arah Alvin. “Aku ke mari bersama dengan Kriss serta Metta. Jika kamu membutuhkan penjelasan, ikutlah denganku. Aku akan menjelaskannya di bawah. Bukankah tidak baik jika kita berduaan seperti ini di sini?” Laura berbalik, melangkah terlebih dahulu tanpa menunggu jawaban dariku.

Di ruang tamu keluarga, aku melihat keberadaan Kriss, Laura, dan juga Metta di sana. Mereka terlihat duduk beriringan di sofa panjang berwarna cokelat.

“Sejak kapan rumah lo jadi sepi kayak kuburan gini?” candaan Kriss menyambutku kala kaki ini menginjak lantai ruang tamu.

Aku terkekeh kecil. “Lagi pada pergi,” jawabku seadanya. “Ada apa ke sini?”

“Pertanyaan lo sungguh sangat menyakitkan, Kawan.” Kriss memegang dadanya, bertingkah dramatis. “Kita ini sudah mengenal sejak lama, Kawan. Bukannya gue selalu berbagi cerita ke lo. Bahkan mengenai persoalan rumah tangga gue. Apa sebegitu nggak percayanya lo ke gue, sampai masalah sebesar ini lo nggak cerita?” Kriss memandangku kesal. “Terus ini maksudnya apa? Kabur? Udah kayak gadis perawan lagi patah hati aja lo.”

Aku mendengkus sebal mendengar pernyataan dirinya mengenai diriku. Apa? Gadis perawan yang sedang patah hati? Tidak ada kata yang lebih baik dari itu?

“Siapa juga yang kabur? Gue cuman lagi nenangin diri doang.” Aku meneguk segelas jus yang tadi telah disiapkan. “Ada kabar baru apa selama dua bulan ini?”

Kriss tersenyum sumringah. “Sepertinya aura bahagia gue terlalu jelas terpancar, ya?” Kriss terlihat mengambil tangan kanan Metta, menggenggamnya dengan erat. “Kita udah nikah dua minggu yang lalu.”

“Seperti biasa. Lo selalu penuh kejutan.

Kriss terlihat mengambil sesuatu dari dalam tas Metta, lalu melemparnya begitu saja ke hadapanku. “Dua minggu lagi. Ulang tahun perusahaan gue. Wajib datang khusus buat lo. Sekalian temuin anak gue.”

Aku memandang undangan berwarna cokelat muda di tanganku, lalu mengangguk singkat menjawab permintaan Kriss. “Ya, kalau sempat.”

Kriss berdeham lalu berdiri bangkit dari kursinya. “Kayaknya ada yang perlu kalian bicarakan. Aku dan Metta akan menunggu kalian di belakang.” Kriss memandang ke arah kami bergantian, lalu melangkah pergi tanpa sempat menunggu persetujuanku.

Suasana menjadi hening seketika. Selama beberapa detik kami hanya saling diam dengan pikiran kita masing-masing.

“Maaf karena tadi aku bersikap lancang.” Laura memulai pembicaraan. Kepalanya tertunduk memandang lantai putih ruang tamu.

Aku hanya mengangguk, menunggu dia kembali berbicara.

“Kami telah bercerai. Dan hak asuh Nausha jatuh pada diriku.” Laura menjeda ucapannya, menarik napas sejenak. “Selama dua bulan ini kehidupanku tidaklah mudah, Alvin. Bukan karena rumah tanggaku yang hancur. Tapi lebih rasa khawatirku padamu.”

“Ke mana saja kamu dua bulan ini? Aku berkeliling, berusaha mencari keberadaanmu. Dan tanpa kuduga, ternyata Nausha menceritakan sendiri tanpa aku minta.” Laura menghela napas, menghapus jejak air mata yang turun tiba-tiba. “Kamu tau, Alvin? Aku telah jatuh cinta padamu”

Tubuhku seketika kaku mendengar pernyataan cinta yang keluar dengan begitu mudah darinya. Mulutku kelu tidak mampu menjawab.

“Aku pernah mendengar sebuah kisah yang berasal dari agamamu, bahwa zaman dahulu pernah seorang wanita yang melamar seorang pria, bukan?” Laura memejamkan matanya sesaat. “Lalu, Alvin, kini izinkan aku seperti wanita itu. Alvin, maukah kamu menikahiku? Aku siap bila harus berpindah agama!”

Tubuhku semakin kaku mendengar pernyataan kedua darinya. Belum rasa terkejut yang pertama terobati, kini dia kembali melontarkan perkataan yang tidak pernah kuduga akan terjadi.

“Kamu berhak mencintaiku, Laura. Tapi bukankah cinta tidak harus memiliki? Tolong, jangan gadaikan begitu saja sebuah keyakinan hanya demi cinta. Jika memang kamu ingin berpindah agama menuju agamaku, maka lakukanlah tanpa karena diriku.

Tidak perlu saling mengalah, kitanya saja yang memang tidak ditakdirkan di garis yang sama. Kamu tidak perlu meninggalkan Tuhan-mu untukku. Dan aku tidak akan pernah meninggalkan Allah-ku karenamu. Sang pencipta tidak mungkin digadai oleh rasa yang bernama cinta. Dia juga tidak mungkin salah menuliskan takdir-Nya. Kita saja yang tidak sama.” Aku menghela napas sejenak. “Aku … tetap akan mendoakanmu di sepertiga malamku. Dan kamu tetaplah teguh di tiap minggumu.”

“Tapi, Alvin ,” sela Laura

“Lusa aku akan pergi jauh. Berniat memperbaiki diri. Aku doakan semoga dirimu cepat menemukan hidayahmu.”

* * *

Dua tahun kemudian.

Sesuai niatku sebelumnya, aku pergi berhijrah menuju Makkah untuk memperbaiki diri sekaligus untuk kembali menuntut ilmu. Aku menatap lekat-lekat kabah dari kejauhan. Rasa damai dan tenang memenuhi relung jiwa.

Fabiayyialaa irobbikuma tukadziban.

Sayup-sayup aku mendengar suara lantunan indah ayat suci al-qur’an.

Seperti tidak asing.

Batinku berujar. Aku termenung. Tiba-tiba seorang wanita bercadar lewat di sampingku. Lalu ia menoleh ke arahku. Seketika mataku membulat sempurna, jantungku memompa darah lebih cepat dan pikiranku buyar ke mana-mana.

“Akankah itu?”

 

-TAMAT-

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar