Strategi Baru Indonesia Redam Gejolak Ekonomi dalam Negosiasi Tarif dengan AS

 

Ditulis Oleh: Ghina Shaqira

Sumber Gambar: Detik.com

Jakarta, 27 April 2025 –  Pemerintah Indonesia saat ini tengah melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat untuk memperkuat kerja sama di sektor energi, pertanian, dan perdagangan digital di tengah dinamika ekonomi global. Proses perundingan ini berlangsung di Washington DC sebagai bagian dari rangkaian IMF-World Bank Spring Meetings, yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani. 

Negosiasi ini menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia adalah menghindari penerapan tarif sebesar 32% yang berpotensi dikenakan pada produk ekspor nasional. Selain itu, Indonesia juga berupaya memperluas dan meningkatkan akses pasar agar produk-produknya dapat bersaing lebih baik di pasar internasional.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa sikap netral Indonesia di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan China merupakan aset strategis yang meningkatkan daya tawar diplomatik negara. Posisi Indonesia yang tidak memihak ini membuatnya dihormati dan diperhitungkan oleh kedua negara adidaya tersebut, terutama karena Indonesia merupakan negara terbesar di ASEAN dengan peran penting dalam hubungan regional dan global.

"Jadi dalam hal ini Indonesia baik di dalam ASEAN sebagai negara terbesar, hubungannya dengan Amerika Serikat, hubungannya dengan China, pihak-pihak yang sekarang mungkin mengalami eskalasi tensi, kita tetap dalam posisi yang cukup netral dan dihormati dan diperhitungkan. Ini merupakan daya tawar yang baik yang harus kita jaga," ujar Sri Mulyani pada pertemuan yang berlangsung di sela-sela rangkaian IMF-World Bank Spring Meeting di Washington DC, Amerika Serikat, Pada Sabtu 26 April 2025.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto selaku Koordinator Delegasi RI dan Tim Negosiasi Tarif dengan Amerika Serikat (AS), menggelar pertemuan dengan sejumlah perusahaan besar asal Amerika Serikat (Amazon, Boeing, Cisco, Chevron, Qualcomm) untuk membahas peluang investasi baru dan memperkuat kerja sama ekonomi digital termasuk dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur data center.  

Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Indonesia menyampaikan upaya dan kebijakan yang sedang disiapkan untuk mendukung iklim investasi dan perdagangan yang lebih terbuka dan kompetitif, termasuk relaksasi kebijakan TKDN khususnya di sektor Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dan sektor kesehatan, fasilitasi perdagangan melalui penyederhanaan prosedur impor, bea cukai, serta penguatan kebijakan neraca komoditas agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri dan perdagangan internasional. US-ABC menyampaikan apresiasi terhadap rencana Pemerintah Indonesia untuk membentuk Satuan Tugas Deregulasi untuk mengkoordinasikan implementasinya ke depan.

US-ABC menekankan sinergi baik yang telah terjalin dengan Indonesia dalam mendorong transformasi digital di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Amazon dan Cisco menegaskan komitmen mereka untuk mendukung Indonesia menjadi pusat data center, yang sangat penting bagi pengembangan kecerdasan buatan. Kawasan seperti Batam dan Bintan telah dikembangkan sebagai zona FTZ (Free Trade Zone) untuk pusat data dan ekonomi digital sangat penting untuk memfasilitasi investasi dari perusahaan-perusahaan IT AS.

Menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri adalah fondasi penting untuk memperkuat rasa hormat dari dunia internasional sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam berbagai hubungan dan negosiasi global. Dengan ekonomi yang kokoh dan stabil, Indonesia tidak hanya mampu menghadapi tantangan global dengan lebih percaya diri, tetapi juga membuka peluang lebih besar untuk kerjasama yang saling menguntungkan.

Diplomasi ekonomi Indonesia menitikberatkan pada diversifikasi ekspor ke berbagai kawasan strategis seperti ASEAN Plus Three, Eropa, dan wilayah potensial lainnya untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu. Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa diskusi intensif dengan mitra seperti ASEAN Plus Three dan Uni Eropa terus dijalin guna mencapai tujuan bersama, yaitu membangun kerja sama yang saling menguntungkan dan memperluas peluang perdagangan Indonesia di pasar global.

Pemerintah berkomitmen untuk menjalankan strategi jangka panjang yang didasarkan pada prinsip netralitas, reformasi yang berkelanjutan, serta perluasan jaringan kerja sama global, agar Indonesia mampu menghadapi perubahan dan tantangan dalam perdagangan internasional dengan lebih tangguh dan adaptif, sekaligus membuka peluang baru yang dapat membawa manfaat bagi seluruh masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar