Ditulis Oleh: Ghina Shaqira
Sumber Gambar: News.bsi
Jakarta, 26 Oktober 2025 – Deshinta Azahra, mahasiswi Semester 5 dari Jurusan Manajemen di UBSI Kampus Kramat 98, saat ini tengah menjalani program magang internasional. Ia berkesempatan bergabung di El Sky Media yang berada di Malaysia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang media. Di sana, Deshinta berperan aktif sebagai bagian dari tim kreatif sekaligus menangani tugas notulensi. Pengalaman ini menjadi langkah penting untuk mengasah kemampuan sekaligus memperluas wawasan di dunia profesional.
Ia mengaku mengetahui tentang program magang internasional ini setelah mendapatkan informasi langsung dari dosen yang membimbingnya di kampus. Dengan penuh antusiasme, ia kemudian memutuskan untuk mendaftarkan diri dan mengikuti seluruh rangkaian tahapan seleksi yang diselenggarakan secara daring melalui platform Google Meet. Menurutnya, proses seleksi tersebut ternyata cukup menantang, karena selain harus melewati wawancara online, ia juga diharuskan melengkapi berbagai dokumen pendukung serta memenuhi persyaratan khusus yang tidak mudah untuk dipenuhi. Namun, justru dari tantangan itulah ia mendapatkan banyak pelajaran berharga yang memperkaya wawasan dan menumbuhkan rasa percaya diri.
Ketika kabar bahwa ia akan mengikuti program magang di luar negeri sampai kepada keluarga dan teman-temannya, reaksi awal yang muncul adalah rasa kaget dan kesulitan menerima kenyataan harus berpisah. Perasaan berat dan khawatir sempat gagal karena jarak yang akan memisahkan mereka dalam waktu yang cukup lama. Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah melihat tekad kuat serta kesungguhan yang dimilikinya, keluarga dan teman-teman akhirnya memberikan dukungan penuh. Mereka menyadari bahwa kesempatan ini menjadi langkah penting baginya untuk mengembangkan potensi dan pengalaman di kancah internasional.
Sebelum berangkat ke Malaysia, Deshinta menyiapkan tiga hal penting yaitu mental, dokumen, dan keterampilan. Baginya, persiapan mental menjadi hal yang paling utama karena magang di luar negeri berarti harus siap menjalani hidup jauh dari keluarga dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan berbeda. Selain itu, ia juga memastikan kelengkapan dokumen penting seperti paspor sudah siap jauh-jauh hari. Tidak kalah pentingnya, Deshinta terus memperdalam kemampuan kemampuan kreatifnya sesuai dengan posisi yang akan dijalaninya selama magang, agar bisa memberikan kontribusi maksimal.
Selama menetap di Malaysia, Deshinta merasakan suasana yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan yang biasa ia temui di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa kondisi jalanan di sana sangat bersih, tertib, dan hampir bebas dari polusi. Suara klakson kendaraan juga sangat jarang terdengar karena penduduk setempat sangat menjaga ketertiban. Selain itu, karena banyaknya komunitas dari India dan Tionghoa, komunikasi sehari-hari umumnya berlangsung dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Melayu.
"Suasana kerja disini sangat luar biasa karena ada banyak culture shock yang aku alami, ada beberapa hal yang berbeda dari Indonesia, salah satunya Ketika aku jalan pagi untuk berangkat ke office, suasana dan keadaan jalan raya sangat teratur dan rapih. Tidak ada sampah di pinggir jalan, jarang sekali ada klakson kendaraan, dan yang paling mencolok adalah disini minim polusi. Oh ya disini juga banyak penduduk yang berasal dari india dan china, jadi setiap ke mini market kita sering kali menggunakan Bahasa Inggris, walaupun ada beberapa tempat yang menggunakan Bahasa Melayu," ujar Deshinta saat diwawancarai oleh Tim Jurnalistik BSI via Platform WhatsApp pada 25 Oktober 2025.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Deshinta selama magang adalah mengikuti rapat dengan klien yang menggunakan Bahasa Inggris. Hal ini menuntutnya untuk bisa cepat beradaptasi, terutama dalam hal mendengarkan dengan penuh perhatian serta berbicara secara lancar dan profesional dalam bahasa asing. Meskipun Deshinta sempat merasa grogi dan canggung karena belum terbiasa menggunakan Bahasa Inggris dalam situasi resmi seperti itu. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai merasa lebih percaya diri dan melihat pengalaman tersebut sebagai kesempatan yang sangat berharga. Deshinta tidak hanya berhasil meningkatkan kemampuan komunikasinya secara global, tetapi juga mendapatkan pelajaran penting tentang keberanian dan ketekunan menghadapi tantangan baru
Deshinta juga berbagi pengalaman menarik saat berbelanja di sebuah minimarket di Damansara. Ia memperhatikan bahwa hampir semua barang di sana dijual dengan harga RM 2,60, yang jika dihitung-hitung sekitar Rp10.000. Baginya, keberadaan tempat belanja seperti itu sangat membantu para perantau, termasuk dirinya, untuk mengatur keuangan dan berhemat selama menjalani hari-hari di negeri orang. Pengalaman ini memberikan rasa nyaman dan keyakinan bahwa ia bisa menjalani masa magang dengan penuh perhitungan tanpa harus khawatir soal kebutuhan sehari-hari.
Selama menjalani program magang, Deshinta mengakui bahwa ia mendapatkan banyak pelajaran berharga yang tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan, tetapi juga soal pengembangan diri. Ia belajar untuk bersabar dalam menghadapi setiap proses yang ada, memahami pentingnya manajemen waktu agar bisa lebih disiplin dan selalu tepat waktu dalam menjalankan tugas. Selain itu, pengalaman tersebut mengajarkannya keberanian untuk melawan rasa takut dan berani mencoba hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah dicoba. Bagi Deshinta, setiap kesalahan yang terjadi bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan belajar yang membantu tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
Ia juga membagikan tips sederhana bagi siswa lain yang ingin mengikuti streaming, dengan menekankan bahwa "Niat dan tekad adalah dua kunci utama,” ujar Deshinta saat diwawancarai oleh Tim Jurnalistik BSI via Platform WhatsApp pada 25 Oktober 2025.
Menurut Deshinta, selama seseorang memiliki niat dan tekad yang kuat, berbagai tantangan dan rintangan yang muncul akan terasa lebih ringan untuk dihadapi. Keyakinan itulah yang membantu tetap semangat menjalani setiap proses dalam program magang ini. Ia juga menyampaikan harapannya untuk bisa mendapatkan kesempatan kembali mengikuti program magang internasional, kali ini di Singapura, agar ia bisa lebih memperluas pengalaman dan belajar dari lingkungan yang baru.
0 Komentar